MAKNA SIMBOLIK DALAM UPACARA PANGGIH ADAT YOGYAKARTA

Penyerahan sanggan yang lazim disebut tebusan

· Arti Nominal : Buah pisang raja yang diletakkan di nampan yang dihias dengan daun pisang, yang kemudian diserahkan oleh pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita. Yang terdiri dari: buah pisang raja satu tangkep, suruh ayu, gambir, kembang telon, dan lawe wenang.

· Makna : Pisang sanggan terdiri dari dua kata yaitu pisang dan sanggan. Pisang mengandung arti “jenis buah-buahan” dan sanggan yang berarti “segala hal untuk menyangga” (Poerwadarminta, 1939:543). Sanggan pada umumnya dikenal dengan tebusan. Suruh ayu, berasal dari dua kata suruh berarti “daun sirih” dan ayu berarti “cantik”. Daun sirih harus dalam kondisi yang baik, mengandung maksud daunnya masih utuh dan segar. Suruh ayu mempunyai makna simbolis ketika menjadi pengantin, hendaknya terlihat segar dan menarik. Segar dan menarik menyimbolkan kebahagiaan. Daun sirih yang digunakan harus yang temu ros “bertemu ruasnya” hal ini melambangkan bahwa sepasang pengantin dipertemukan dahulu. Gambir merupakan kelengkapan dalam menginang, gambir digunakan supaya rasanya semakin mantap. Makna simbolik penggunaan gambir dalam upacara panggih melambangkan kemantapan. Orang yang sudah siap untuk menikah berarti sudah mantap dengan pilihannya. Kembang telon terdiri dari tiga macam bunga terpilih diantara bunga yang lain, yaitu mawar, melati dan kantil. Dipilih tiga macam bunga tersebut mempunyai makna simbolik bahwa ketiga bunga tersebut merupakan bunga yang menjadi raja di taman. Nama bunga ini jika dikeratabasakan menjadi “apa kang binawar (mawar) saking kedaling lathi (mlathi) bisa kumanthil-kanthil ing wardaya”. Artinya “apa yang dinasihatkan oleh orang tua hendaknya selalu dapat diingat oleh calon mempelai”. Lawe wenang, terdiri dari dua kata lawe berarti benang lembut yang akan ditenun (Poerwadarminta, 1939:263). Wenang berarti “bisa atau dapat” (Poerwadarminta, 1939: 660). Lawe wenang merupakan uba rampe pisang sanggan dalam upacara panggih. Lawe wenang digunakan untuk mengikat lintingan daun sirih. Ikatan lawe wenang ini mempunyai makna simbolik ikatan pernikahan. Dipilih benang yang berwarna putih mempunyai makna simbolik suci. Lawe wenang mempunyai makna simbolik bahwa pernikahan merupakan merupakan ikatan yang lembut dan suci.

Keluarnya pengantin wanita yang didahului kembar mayang atau kepyok kembar mayang.

· Arti Nominal : Kembar mayang adalah dua buah rangkaian hiasan yang terdiri dari dedaunan terutama daun kelapa, yang ditancapkan ke sebuah batang pisang yang daun tersebut dirangkai dalam bentuk gunung, keris, cambuk, payung, belalang, dan burung. Selain itu juga terdapat daun beringin, daun dadap srep, dlingo bengle.

· Makna : Makna simbolik dari kepyok kembar mayang ini adalah membuang sial pada pengantin pria. Kembar mayang adalah sebuah rangkaian yang terdiri dari dedaunan terutama daun kelapa, yang ditancapkan ke sebuah batang pisang. Kembar mayang ini berasal dari cerita wayang kulit, hiasan kembar mayang adalah kehendak dari Sri Kresna pada waktu pernikahan agung antara sembadra, adik Sri Kresna dengan Harjuna dari keluarga Pandawa. Kembar mayang ini sungguh suatu hiasan yang sangat elok yang mempunyai arti simbolis yang luas.

- Bentuknya yang seperti gunung memberikan arti bahwa gunung itu tinggi dan besar, maksudnya seorang pria itu harus mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman dan harus sabar.

- Bentuk hiasan seperti keris, artinya supaya pasangan itu berhati-hati dalam hidupnya, pandai dan bijak.

- Bentuk hiasan seperti pecut, mengandung maksud supaya pasangan itu tidak mudah putus asa, harus selalu optimis dan dengan ketetapan hati membina kehidupan yang baik.

- Bentuk hiasan seperti payung, dimaksudkan supaya mereka menjadi pelindung keluarga dan masyarakat.

- Bentuk hiasan seperti belalang, supaya mereka bersemangat, cepat dalam berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan keluarga.

- Bentuk hiasan seperti burung, supaya mereka mempunyai motivasi yang tinggi dalam hidupnya.

Daun beringin supaya mereka melindungi keluarga dan orang lain, daun kruton dimaksudkan supaya terlepas dari godaan makhluk-makhluk jahat, daun dadap srep supaya keluarga itu selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam menghadapi berbagai macam masalah, dlingo bengle dimaksudkan untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh jahat.

Kesimpulannya, upacara ini melambangkan perjalanan hidup kedua mempelai lancar tidak menemui halangan dan rintangan sehingga cepat mencapai kebahagiaan hidup. Selain itu juga melambangkan bahwa seorang pria itu harus mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman serta harus sabar, kedua mempelai juga diharapkan berhati-hati dalam hidupnya, pandai dan bijak, kedua mempelai diharapkan tidak mudah putus asa, harus selalu optimis dan dengan ketetapan hati membina kehidupan yang baik, kedua mempelai diharapkan menjadi pelindung keluarga dan masyarakat, kedua mempelai juga diharapkan bersemangat, cepat dalam berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan keluarga, kedua mempelai juga diharapkan mempunyai motivasi tinggi dalam hidupnya, kedua mempelai juga diharapkan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam menghadapai berbagai macam masalah, selain itu juga diharapkan mempelai bisa melindungi diri dan terlepas dari godaan makhluk-makhluk jahat.

Lempar sirih atau balangan gantal

Gantal

· Arti Nominal : Pengantin pria dan pengantin wanita saling melemparkan tujuh ikat daun sirih yang diisi dengan kapur sirih dan diikat dengan benang putih. Untuk pria berjumlah 4 ikat dan wanita 3 ikat, pria dulu yang melempar.

· Makna : Melambangkan ikatan dan kejernihan pikiran. Balangan berarti ‘melempar’ , sedangkan gantal berarti ‘daun sirih yang sudah diikat dengan benang’. Suruh yang diikat dengan benang sebagai lambang perjodohan dan telah diikat dengan tali suci. Selain itu juga melambangkan suatu perwujudan perkenalan pertama antara calon suami dan calon istri.

Wijikan dan Memecah Telur

· Arti Nominal : Pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria. Perlengkapan yang dipakai yaitu ranupada yang terdiri gayung, bokor, baki, bunga sritaman dan telur. Pemaes mengambil telur ayam yang kemudian disentuhkan di dahi pengantin laki-laki dahulu kemudian pengantin perempuan, lalu dibanting di ranupada.

· Makna : Ranupada berarti ‘tempat mencuci kaki’, ranupada mempunyai makna simbolik sebagai tanda bakti istri pada suami. Gayung dipakai pengantin wanita untuk mengambil air dari bokor, melambangkan supaya istri diberi kemudahan untuk melayani suami. Bokor dipakai pada saat upacara wijikan sebagai tempat air bunga setaman. Dipilih bokor karena pada jaman dahulu bokor merupakan tempat air. Bokor terbuat dari tembaga atau logam yang kuat, maka dari itu bokor tidak mudah bocor. Bokor mempunyai makna simbolik kekuatan. Bunga sritaman atau bunga setaman melambangkan keharuman cita-cita mengarungi bahtera rumah tangga. Baki digunakan sebagai alas dalam wijikan atau memecah telur, mengandung makna jika sudah resmi menjadi suami istri maka segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama.

Berjalan bergandengan jari kelingking menuju ke pelaminan

· Arti Nominal : Kedua mempelai berdiri berdampingan dengan kelingking tangan kiri pengantin pria dikaitkan dengan kelingking tangan kanan pengantin wanita. Dalam posisi kelingking terkait, kedua mempelai berjalan menuju pelaminan.

· Makna : Bergandengan jari kelingking, melambangkan hubungan dengan orang tua tinggal sedikit.

Tampa kaya

· Arti Nominal : Pengantin wanita menerima “lambang harta” dari pengantin pria, kemudian diserahkan kepada Ibu pengantin putri.

Makna : Tampa kaya adalah sebuah tahap dimana pengantin pria memberikan ‘lambang harta’ dengan cara dikucurkan pada pangkuan pengantin wanita yang dibawahnya dialasi dengan kain. Tampa kaya mempunyai makna simbolik bahwa seorang pria bertanggung jawab unutk mencukupi kebutuhan keluarganya. ‘Lambang harta’ yang terdiri dari segala macam biji-bijian dan uang logam sebagai simbol rejeki yang melimpah, bunga-bungaan melambangkan keharuman dan kewibawaan nama pengantin sedangkan dlingo bengle sebagai lambang kesehatan. Diusahakan isinya jangan sampai tercecer, karena tercecer melambangkan sikap yang boros. Selanjutnya pengantin wanita menyerahkan ‘lambang harta’ yang sudah diikat kepada Ibunya, hal ini mempunyai makna simbolis wujud bakti seorang anak memberi apabila orang tua membutuhkan.

Tampa kaya mempunyai makna sebagai lambang bahwa sikap seorang wanita seharusnya bersyukur menerima nafkah dari suami sebesar apapun dan mengelolanya dengan benar, cermat dan berhati-hati dan sebagai seorang pria wajib bertanggung jawab akan kehidupan keluarganya, suami tidak boleh curang, semua kekayaan hasil jerih payahnya harus diserahkan kepada istrinya. Serta mempunyai makna pengharapan aliran rejeki yang lancar. Selain itu juga mengandung makna wujud bakti seorang anak kepada ibunya, wujud bakti seorang anak memberi apabila orang tua membutuhkan.

Dahar klimah

· Arti Nominal : Pengantin pria membuat nasi yang dikepal sebanyak tiga kali untuk pengantin wanita. Kemudian pengantin wanita memakan nasi kepalan tersebut yang terdiri dari rangkaian sayuran berupa kacang panjang, nasi kuning, telur dadar, kedelai goreng, tempe goreng, abon, dan hati ayam kampung yang dimasak pindang antep.

· Makna : Dahar Klimah terdiri dari rangkaian sayuran berupa kacang panjang yang menyimbolkan cinta kasih pasangan pengantin sepanjang masa, ditengahnya nasi kuning dengan lauk pauk yang lengkap dengan segala jenis sayuran menyimbolkan harapan pengantin akan limpahan rejeki dengan murah pangan. Lauk ini diantaranya telur dadar, kedelai goreng, tempe goreng, abon serta hati ayam kampung dimasak pindang yang dinamakan pindang antep. Pindang antep ini menyimbolkan kemantapan hati kedua pengantin untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Mapag besan

· Arti Nominal : Orang tua pengantin wanita menjemput orang tua pengantin pria atau besan di pelataran atau beranda rumah.

· Makna : Melambangkan kerukunan antar keluarga kedua mempelai

Sungkeman

· Arti Nominal : Kedua mempelai berlutut atau jongkok didepan orang tuanya, menyembah.

· Makna : Mempunyai makna simbolik yaitu tanda bakti anak kepada orang tua yang telah membesarkannya hingga dewasa, permohonan anak kepada orang tua supaya diampuni kesalahannya dan memohon doa restu supaya dalam membina bahtera rumah tangga dapat bahagia dan sejahtera. Pengantin pria melepaskan keris yang merupakan lambang kekuatan yang dipakainya ketika sungkeman, hal ini mempunyai makna simbolik penghormatan kepada orang tua., serta sebesar apapun pangkat atau kekuatan yang dimiliki oleh anak, maka dihadapan orangtuanya tidak boleh ditampakkan.

Published in: on April 30, 2008 at 3:15 am  Comments (21)  
Tags: ,

Pernikahan Adat Yogyakarta

Nontoni

Nontoni adalah upacara untuk melihat calon
pasangan yang akan dikawininya.
Dimasa lalu orang yang akan nikah belum
tentu kenal terhadap orang yang akan
dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah
melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga
mereka sudah tahu dan mengenal atau
pernah melihatnya.
Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti
maka diadakan tata cara nontoni.
Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak
pria.
Setelah orang tua si perjaka yang akan
diperjodohkan telah mengirimkan
penyelidikannya tentang keadaan si gadis
yang akan diambil menantu.
Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping
banyu atau penyelidikan secara rahasia.
Setelah hasil nontoni ini memuaskan,
dan siperjaka sanggup menerima pilihan
orang tuanya, maka diadakan musyawarah
diantara orang tua / pinisepuh
si perjaka untuk menentukan tata cara
lamaran.

Lamaran

Melamar artinya meminang, karena pada
zaman dulu diantara pria dan wanita yang
akan menikah terkadang masih belum
saling mengenal, jadi hal ini orang
tualah yang mencarikan jodoh  dengan
cara menanyakan kepada seseorang apakah
puterinya sudah atau belum mempunyai
calon suami.
Dari sini bisa dirembug hari baik untuk
menerima
lamaran atas persetujuan bersama.

Upacara lamaran:

Pada hari yang telah ditetapkan,
datanglah utusan dari calon besan
yaitu orang tua calon pengantin pria
dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman
dulu yang lazim disebut Jodang ( tempat makanan
dan lain sebagainya ) yang dipikul oleh empat orang pria.
Makanan tersebut biasanya terbuat dari
beras ketan antara lain : Jadah, wajik,
rengginan dan sebagainya.Menurut naluri
makanan tersebut mengandung makna
sebagaimana sifat dari bahan baku ketan
yang banyak glutennya sehingga lengket dan
diharapkan kelak kedua pengantin dan
antar besan tetap lengket(pliket,Jawa).
Setelah lamaran diterima kemudian kedua
belah pihak merundingkan hari baik
untuk melaksanakan upacara peningsetan.
Banyak keluarga Jawa masih
melestarikan sistem pemilihan hari pasaran
pancawara dalam menentukan hari baik
untuk upacara peningsetan dan hari ijab
pernikahan.

Peningsetan

Kata peningsetan adalah dari kata dasar
singset (Jawa) yang berarti ikat,
peningsetan jadi berarti pengikat.
Peningsetan adalah suatu upacara
penyerahan sesuatu sebagai pengikat
dari orang tua pihak
pengantin pria kepada pihak calon
pengantin putri.

Menurut tradisi peningset terdiri dari : Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang lazim disebut tukon ( imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur . Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.

Upacara Tarub

Tarub adalah hiasan janur kuning
( daun kelapa yang masih muda ) yang
dipasang tepi tratag
yang terbuat dari bleketepe (  anyaman
daun kelapa yang hijau ).
Pemasangan tarub biasanya dipasang
saat bersamaan dengan memandikan calon
pengantin( siraman, Jawa ) yaitu satu
hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan.
Untuk perlengkapan tarub selain janur
kuning masih ada lagi antara lain yang
disebut dengan tuwuhan.

Adapun macamnya :

  • Dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang.
  • Dua janjang kelapa gading ( cengkir gading, Jawa )
  • Dua untai padi yang sudah tua.
  • Dua batang pohon tebu wulung ( tebu hitam ) yang lurus.
  • Daun beringin secukupnya.
  • Daun dadap srep.
Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di
kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan
pintu gerbang  satu unit  ( bila selesai
pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada
anak-anak )
Selain pemasangan tarub diatas masih
dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan sbb.
(Ini merupakan petuah dan nasehat yang adi luhung, harapan
serta do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ) yang dilambangkan
melalui:
  1. Pisang raja dan pisang pulut yang berjumlah genap.
  2. Jajan pasar
  3. Nasi liwet yang dileri lauk serundeng.
  4. Kopi pahit, teh pahit, dan sebatang rokok.
  5. Roti tawar.
  6. Jadah bakar.
  7. Tempe keripik.
  8. Ketan, kolak, apem.
  9. Tumpeng gundul
  10. Nasi golong sejodo yang diberi lauk.
  11. Jeroan sapi, ento-ento, peyek gereh, gebing
  12. Golong lulut.
  13. Nasi gebuli
  14. Nasi punar
  15. Ayam 1 ekor
  16. Pisang pulut 1 lirang
  17. Pisang raja 1 lirang
  18. Buah-buahan + jajan pasar ditaruh yang tengah-tengahnya diberi tumpeng kecil.
  19. Daun sirih, kapur dan gambir
  20. Kembang telon (melati, kenanga dan kantil)
  21. Jenang merah, jenang putih, jenang baro-baro.
  22. Empon-empon, temulawak, temu giring, dlingo, bengle, kunir, kencur.
  23. Tampah(niru) kecil yang berisi beras 1 takir yang diatasnya 1
  24. butir telor ayam mentah, uang logam, gula merah 1 tangkep, 1 butir kelapa.
  25. Empluk-empluk tanah liat berisi beras, kemiri gepak jendul,
  26. kluwak, pengilon, jungkat, suri, lenga sundul langit
  27. Ayam jantan hidup
  28. Tikar
  29. Kendi, damar jlupak (lampu dari tanah liat) dinyalakan
  30. Kepala/daging kerbau dan jeroan komplit
  31. Tempe mentah terbungkus daun dengan tali dari tangkai padi ( merang )
  32. Sayur pada mara
  33. Kolak kencana
  34. Nasi gebuli
  35. Pisang emas 1 lirang

Masih ada lagi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang dilambangkan melalui : Tumpeng kecil-kecil merah, putih,kuning, hitam, hijau, yang dilengkapi dengan buah-buahan, bunga telon, gocok mentah dan uang logam yang diwadahi diatas ancak yang ditaruh di: Area sumur

  1. Area sumur
  2. Area memasak nasi
  3. Tempat membuat minum
  4. Tarub
  5. Untuk menebus kembarmayang ( kaum )
  6. Tempat penyiapan makanan yang akan dihidangkan.
  7. Jembatan
  8. Perempatan.

Nyantri

Upacara nyantri  adalah menitipkan calon
pengantin pria  kepada keluarga
pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum
pernikahan. Calon pengantin pria ini
akan ditempat kan dirumah saudara atau
tetangga dekat.
Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk
melancarkan jalannya upacara pernikahan,
sehingga saat-saat upacara pernikahan
dilangsungkan maka calon pengantin pria
sudah siap ditempat sehingga tidak
merepotkan pihak keluarga
pengantin putri.
 
Upacara Siraman

Siraman dari kata dasar siram ( Jawa ) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni.

Upacara siraman dilaksanakan satu hari sebelum upacara ijab. Pelaksanaannya biasanya pagi hari sekitar pukul 10.00. Namun, upacara ini sekarang kerap dilakukan sore hari sekitar pukul 16.00. Ini karena alasan praktis, agar setelah siraman dapat langsung dilanjutkan dengan upacara midodareni.
Upacara siraman sampai saat ini tetap dianggap penting dan dilakukan secara sungguh-sungguh. Karena upacara ini merupakan persiapan lahir dan batin bagi kedua calon pengantin sebelum menjalani upacara puncak perkawinan mereka. Pembersihan badan calon pengantin mengandung makna pembersihan batin mereka pula.
Di dalam adat masyarakat Jawa – juga di dalam aneka macam agama yang dianutnya – upacara perkawinan dipandang bukan hanya sebagai peristiwa yang bersifat administratif dan sosial, melainkan sakral atau suci dan religius. Maka kebersihan lahir dan batin pelakunya dinilai sangat penting.
Menurut mitos, upacara ini merupakan langkah persiapan dalam menyambut Sang Bidadari yang akan turun untuk menyaksikan putrinya yang akan melangsungkan pernikahan.

1. Perlengkapan Upacara Siraman
Perlengkapan yang perlu dipersiapkan untuk upacara ini meliputi:

a.

Air bersih atau air dari sumber

Air bersih yang digunakan untuk nyirami atau memandikan calon pengantin. Pembesihan badan ini melambangkan pembersihan rohani agar calon pengantin menjadi bersih lahir dan batin.

b.

Bunga Sritaman.

Bunga Sritaman adalah bunga bunga taman yang indah, seperti kenanga, kanthil, melati, dan mawar.Bunga ini ditaburkan dalam air, sehingga air menjadi harum. Calon pengantin yang disirami air ini tubuhnya menjadi harum. Secara simbolis namanya pun menjadi semerbak.

c.

Sepasang kelapa hijau.

Sepasang kelapa hijau ini sebagian sabutnya diikat menjadi satu kemudian dimasukkan kedalam air yang ditaburi kedalam siraman. Makna kedua kelapa hijau yang sabutnya diikat menjadi satu itu adalah harapan agar calon pengantin dikemudian hari dapat selalu hidup rukun yang dikatakan orang tua-tua seperti mimi lan mintuna, dan berdaya guna bagaikan buah kelapa.

d.

Alas duduk.

Alas duduk calon pengantin ini dibuat bagus, dan terdiri dari:
- Sehelai kain motif yuyu sekandang, yaitu kain lurik tenun coklat bergaris- garis benang emas.
- Sehelai kain motif pulo watu, yaitu kain lurik putih bergaris-garis atau lerek merah hitam.

Alas duduk semacam itu dimaksudkan untuk tolak bala atau penolak balik terhadap mara bahaya. Selain itu, dimaksudkan agar calon pengantin dapat mengatasi segala tantangan yang akan dihadapi dalam hidupnya

e.

Konyoh panca warna.

Konyoh adalah sejenis param atau bedak basah yang dibuat dari tepung beras di campur kencur, sejenis tanaman untuk jamu tradisional. Konyoh ini berwarna-warni. Warnanya lima macam, yakni merah, putih, kuning, hijau, dan biru.
Karena terdiri dari lima macam warna maka disebut Konyoh manca atau panca warna. Konyoh ini berfungsi sebagai sabun yang dapat menjadikan tanam- tanaman bersih dan bersinar sebagaimana cahaya yang berwarna-warni.

f.

Air asem, santen kanil, dan londho merang.

Air asem, santen kanil, (air perahan parutan kelapa yang kental) dan londho merang (air abu batang padi) digunakan sebagai sampo pelembut untuk membersihkan rambut waktu upacara siraman atau sesudahnya.

g.

Klenthing atau kendi yang berisi air bersih.

Klenthing atau kendi yang berisi air bersih digunakan sebagai tanda penutup dalam mengakhiri upacara siraman.
Sajen.
Sajen adalah sajian yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib/roh dalam suatu upacara. Sajian dalam upacara siraman ini banyak macamnya, yaitu;

1) Satu cething tumpeng robyong
Cething adalah sejenis bakul yang dibuat dari anyaman bambu.Tumpeng adalah nasi yang dibentuk seperti kerucut untuk keselamatan, dsb. Tumpeng robyong merupakan tumpeng yang lauknya terdiri dari sayur-sayuran rebus seperti kacang panjang, kangkung, kol, yang dilengkapi dengan bumbu anyep-anyepan.

2) Satu cething tumpeng gundhul
Tumpeng gundhul merupakan tumpeng yang lauknya terdiri atas goreng- gorengan, antara lain: peyek gereh ( ikan asin pethek ) peyek teri, peyek kacang, dan peyek tholo.

3) Satu tampah jajan pasar, yang terdiri dari:
- buah-buahan, berbagai palawija rebus, dan bermacam macam makanan rakyat tradisional
- satu sisir pisang raja dan pisang pulut
- sebuah kelapa yang dihilangkan sabutnya
- gula jawa setangkep atau satu tangkup
- empluk, sejenis gerabah kecil-kecil untuk mainan anak-anak, berisi berbagai bumbu pawon (bumbu dapur) beras, dan telur ayam, mentah serta sisir dan cermin
- jlupak, yaitu pelita yang menggunakan minyak kelapa dan kapas
- bunga telon (kanthil, melati, dan kenanga), disertai uang recehan
- kinang, sekapur sirih.

4) Satu tampah jenang
Jenang yang disajikan berwarna-warni: merah, putih, palang, baro-baro (putih ditengahnya merah, diberi gula kelapa), lirit (separo merah separo putih).

5) Ayam jantan hidup dan masih muda.
Semua perlengkapan tersebut diatas harus sudah disiapkan sebelum upacara siraman, diletakkan dikamar mandi atau tempat siraman.

2. Pelaksanaan Upacara Siraman.

Setelah segala perlengkapan disiapkan dan calon pengantin sudah siap dengan busana siraman berupa kain pasatan dan kain putih polos (mori), upacara dapat dimulai.
Tahap-tahap upacara :

1)

Calon pengantin yang mengenakan pasatan dan kain busana siraman dengan rambut yang terurai, dijemput oleh orangtuanya dan diantar ketempat upacara mereka diikuti oleh para pinisepuh serta pembawa pakaian yang membawa seperangkat kain yang terdiri dari sehelai motif grompol, sehelai kain motif nogosari serta perlengkapan berbusana lainnya yang ditaruh teratur pada baki kain beserta perlengkapannya itu nantinya dipergunakan setelah upacara selesai. Sesampai ditempat upacara,calon pengantin dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan.

2)

Orangtua calon pengantin – ayah terlebih dahulu, kemudian ibu – mengawali menyiram atau megguyur calon pengantin dengan air bersih yang sudah ditaburi bunga siraman dan dimaksudkan dua kelapa hijau yang diikat sabut didalamnya.

Sebelumnya boleh diawali dengan doa menurut agama atau kepercayaan masing-masing (doa tidak perlu diucapkan). Pada waktu mengguyur dapat disertai dengan memberi konyoh manca warna, serta londho merang, kemudian diakhiri dengan guyuran tiga kali di kepala. Sesudah itu disusul oleh pinisepuh. Tidak ada ketentuan mengenai jumlah orang yang memandikan . Makin banyak makin baik, asalkan jumlahnya ganjil, dengan juru paes yang muloni. Muloni dalam hal ini ada kaitannya dengan wulu atau wudlu, yaitu kegiatan membersihkan muka, tangan, dan kaki sebelum sembahyang.

3)

Juru paes atau petugas lainnya mengakhiri upacara ini dengan muloni. Caranya sebagai berikut:
- Setelah juru paes mencuci rambut dan membersihkannya dengan tapis, sungguh-sungguh bersih, juru paes mengambil kendi yang berisi air sumber. Air dari kendi diguyurkan ke kepala calon pengantin tiga kali.
- Kemudian, calon pengantin harus mengambil sikap tangan seperti kalau orang akan menyucikan diri sebelum sembahyang. Juru paes menuangkan air kendi ke tangan calon pengantin agar digunakan untuk berkumur sampai tiga kali.
- Selanjutnya, air dituangkan lagi untuk membersihkan wajah, leher, dan terakhir kaki. Masing-masing juga tiga kali.
- Setelah air kendi habis, juru paes mengucapkan kata-kata, Wis pecah pamore, sambil memecahkan kendi di depan calon pengantin.

Selanjutnya calon pengantin meneruskan mandi dan keluar dari tempat mandi dengan mengenakan kain motif grompol dan tutup badan kain nogosari. Didampingi orangtuanya, calon pengantin menuju kamar pengantin diikuti para pinisepuh.
Upacara Siraman ini berlaku baik untuk calon pengantin pria maupun wanita. Pelaksanaannya biasanya dirumah masing-masing. Jika Siraman calon pengantin pria dilaksanakan ditempat calon pengantin wanita, calon pengantin wanita yang lebih dahulu dari calon pengantin pria. Perlengkapan upacaranya cukup satu perangkat sebagaimana dipaparkan didepan. Tentu saja kain yang digunakan pada waktu mandi tidak sama, tetapi motifnya serupa.

B. UPACARA NGERIK.

Upacara ngerik merupakan langkah lanjut dari siraman yang juga mempunyai tujuan utama agar calon pengantin bersih lahir dan batin. Dalam upacara ini yang dibersihkan adalah sebagian rambut halus yang tumbuh di bagian dahi, supaya penampilan pengantin nantinya tampak cemerlang (semeblak, jawa).

1. Perlengkapan upacara ngerik
Perlengkapan upacara ngerik pada dasarnya sama dengan siraman. Perlengkapan khusus yang harus disediakan adalah ratus, kain motif truntum, baju kebaya biasa, gondhel atau pisau cukur, cermin yang ditutup, dan handuk.

2. Pelaksanaan upacara ngerik.

1)

Setelah calon pengantin wanita duduk pada tempat yang telah disediakan, rambutnya diratus. caranya sebagai berikut :
- Pengratusan (anglo kecil tempat bara) setelah diisi dengan bara api, kemudian di taburi ratus sehingga menyebarkan asap yang berbau harum.
- Dari belakang rambut calon pengantin diangkat dan pengratusan digerak-gerakan dibawahnya ; rambut diasap-asapi diusahakan agar pengasapannya merata.
- Bagian atas kepala calon pengantin ditutup handuk, agar sewaktu rambutnya diratus, asapnya tidak menyebar kesana kemari, tapi hanya mengenai rambut sehingga harumnya lebih meresap.

2)

Calon pengantin digambar. Caranya sebagai berikut. Pemaes menentukan bentuk paes yang terdiri dari penunggul, penitis, pengapit, dan godheg. Selanjutnya ia membuat cengkorongan paes berdasarkan bentuk-bentuk paes sesuai dengan gaya yang diinginkan. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorongan paes ini dikerjakan dengan pensil dan hasil akhirnya berupa gambar samar-samar atau tipis. Tujuannya adalah agar pada waktu menghilangkan rambut halus, pengerikan dapat dilakukan tepat menurut gambaran paes yang diinginkan.Rambut halus yang dihilangkan hanya rambut halus yang tumbuh di luar cengkorongan

3)

Calon pengantin dihalub-halubi atau dikerik. Caranya sebagai berikut. Rambut halus yang tumbuh di bagian luar cengkorongan paes dihilangkan.Dengan kata lain, rambut halus yang ada di bagian kalenan, yaitu daerah-daerah di antara penunggul dan pengapit, antara pengapit dan penitis, serta antara penitis dan godheg, dengan hati-hati dihilangkan. Cara menghilangkannya: rambut-rambut halus dikerik mengikuti arah batas cengkorongan paes; mulai dari penunggul, pengapit, penitis, dan akhirnya godheg. Selain itu, daerah sekitar alis juga dikerik. Lebih-lebih apabila bentuk alis calon pengantin kurang baik. Untuk itu juru paes harus membentuknya supaya tampak indah.

4)

Calon pengantin dirias samar-samar dan disanggul. Bentuk sanggul boleh model ukel tekuk atau model ukel kondhe.

5)

Calon pengantin mengenakan busana polos, dalam arti tidak memakai perhiasan apa pun. Kain yang dikenakan adalah kain dengan motif truntum, dan baju yang dikenakan baju kebaya biasa.

C. UPACARA MIDODARENI

Pada dasarnya upacara midodareni adalah acara tirakatan atau wungon, yaitu duduk-duduk sambil berbincang-bincang pada malam hari, pada waktu orang punya hajatan. Tirakatan juga mengandung unsur permohonan, doa kepada Tuhan agar pernikahan yang dilaksanakan mendapatkan anugerah-Nya. Tirakatan ini disebut midodareni karena ada kaitannya dengan cerita rakyat Joko Tarub, yang mengisahkan seorang bidadari atau widodari ( Jawa ) bernama Nawang Wulan. Dewi Nawang Wulan yang turun ke bumi bersama bidadari-bidadari lainnya tidak dapat terbang kembali ke surga, karena pakaiannya disembunyikan oleh Joko Tarub, sewaktu mereka mandi-mandi di suatu telaga. Konon Dewi Nawang Wulan menikah dengan Joko Tarub dan dikaruniai seorang puteri bernama Dewi Nawangsih. Pada suatu saat, karena Joko Tarub melanggar pantangan untuk tidak membuka tutup dandang penanak nasi, Dewi Nawang Wulan terlepas dari ikatan nasibnya dan dapat terbang kembali ke surga.
Dikisahkan pula bahwa Dewi Nawang Wulan akan hadir pada malam sebelum perkawinan putrinya, Dewi Nawangsih. Dewi Nawang Wulan akan memberikan doa restu dan mempercantik wajah Dewi Nawangsih. Itu sebabnya, malam menjelang hari perkawinan disebut malam midodareni yaitu malam kedatangan Dewi Nawang Wulan yang akan merestui dan mempercantik calon pengantin sebagaimana ia lakukan terhadap Dewi Nawangsih.
Pada malam itu, menurut tradisi, calon tidak boleh tidur sebelum pukul dua belas malam, dan tidak boleh keluar dari pedaringan-kamar pengantin.
Dimanakah midodareni ini dilaksanakan? Umumnya upacara ini dilaksanakan di tempat calon pengantin wanita. Seandainya calon pengantin pria sudah tinggal di rumah calon pengantin wanita, maka yang pria tidak boleh bertemu dengan yang wanita, apalagi tinggal bersama di dalam satu kamar.

1. Perlengkapan Upacara Midodareni.
Menurut cerita perlengkapan upacara midodareni adalah perlengkapan yang dipesan oleh Dewi Nawang Wulan kepada Nawangsih untuk menyambut kehadirannya pada malam perkawinaan putrinya itu. Perlengkapan yang dimaksud meliputi:

1)

Sepasang kembar mayang dan sepasang buah kelapa muda yang masih ada sabutnya. Kembar mayang adalah hiasan janur (daun kelapa muda) yang dibuat sepasang.

2)

Sepasang klemuk. Klemuk adalah sejenis gerabah- yang diisi dengan bumbu pawon (dapur), biji-bijian, serta empon-empon, dan ditutup dengan kain motif bangun tulak.

3)

Sepasang kendi yang diisi dengan air bersih. Paruh kendi ditutup dengan daun dhadhap srep yang bertemu ruasnya.

4)

Sesajian yang terdiri dari:
- nasi gurih dengan lauk sambel pecel, sambel pencok, recek, dan lalaban
- sepasang ingkung ayam atau ayam yang dimasak secara utuh
- rujak degan ( kelapa muda )
- air kopi dan air teh tanpa gula
- jlupak (pelita) yang diisi dengan sumbu kapas
- roti tawar
- gula jawa satu tangkup.

5)

Kamar pengantin yang dihias dengan :
- mayang jambe
- tujuh macam kain motif letrek
- sirih ayu yang dihias dengan kapur sirih
- ukup, yaitu wangi wangian yang diramu dari serai, irisan pandan, parutan kencur, parutan laos, parutan jeruk purut dan bunga kenanga, yang dicampur jadi satu serta diberi minyak wangi dan ditata diatas baki serta diletakkan dikolong tempat tidur, meja, dsb.

2. Pelaksanaan Upacara Midodareni.
Setelah semua perlengkapan tersedia, jalannya upacara adalah sebagai berikut :

1.

Calon pengantin mengenakan busana dengan kain motif truntum dengan baju kebaya biasa, sanggul ukel tekuk atau ukel konde, dan tidak memakai perhiasan (aksesori).

2.

Calon pengantin tinggal di kamar pengantin yang dihias dan dilengkapi dengan aneka perlengkapan midodareni, termasuk sajen dan kembar mayang. Calon pengantin ditemani oleh para sesepuh. Kesempatan ini merupakan kesempatan baik bagi orang tua-tua untuk memberikan wejangan atau nasihat. Pemingitan ini berlangsung dari sekitar pukul enam sore hingga sekitar pukul dua belas malam.

3.

Diluar kamar pengantin dapat diadakan upacara serah terima calon pengantin pria dari keluarganya kepada keluarga calon pengantin wanita. Dapat pula malam itu dipergunakan untuk memanjatkan doa atau sembahyangan bersama menurut kepercayaan atau agama masing-masing. Sesudahnya, orangtua-tua, para tamu, teman-teman calon pengantin melanjutkan kegiatan dengan jagongan, yaitu duduk-duduk berbincang-bincang bersama sambil bermain kartu, catur, dan sebagainya sebagai salah satu kegiatan agar tetap terjaga sampai pukul dua belas malam.

4.

Pada pukul dua belas malam calon pengantin keluar dari kamar pengantin bersamaan dengan dikeluarkannya sajen-sajen dan makan bersama dengan keluarga serta para tamu yang hadir pada waktu itu. Kembar mayang dan buah kelapa dikeluarkan. Pada saat upacara panggih.

D. UPACARA IJAB.

Upacara ijab atau akad nikah merupakan upacara yang bersifat administratif dan religius, dalam arti bahwa upacara ini dilaksanakan atas dasar hukum yang berlaku-baik hukum negara ataupun hukum agama. Pelaksanaannya dapat di rumah mempelai wanita di kantor urusan agam di gereja dan sebagainya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pada dasarnya upacara ijab adalah :

a.

ikrar dari kedua pengantin kepada yang maha kuasa, yang disaksikan oleh umum dan diwakili oleh pejabat yang berwenang, oleh orangtua, dan oleh saudara-saudara mempelai isi ikrar antara lain :
1. berjanji akan saling mengasihi dan mancintai, sebagi istri yang baik.
2. berjanji akan bertanggung jawab memenuhi kewajibannya sebagai suami istri yang baik.
3. berjanji akan bertanggung jawab terhadap anak-anak hasil perkawinan mereka.

b.

pernyataan resmi bahwa dalam perkawinan ini tidak ada paksaan dari siapapun.

1. Perlengkapan Upacara Ijab.
Dalam tradisi jawa pada umumnya tidak ada perlengkapan berupa sesajen dan sebagainya untuk upacara ini, kecuali di lingkungan kraton.
Perlengkapan yang disediakan adalah perlengkapan yang berkaitan dengan urusan administrasi dan keagamaan.

2. Pelaksanaan Upacara ijab
Khusus untuk upacara ini dalam tradisi jawa pada umumnya tidak ada petunjuk langkah-langkah yang bersifat simbolis dan sakral sebagai mana pada upacara upacara yang lain seperti siraman, ngerik, midodareni, dan panggih.
Jalannya upacara ini mengikuti kententuan negara atau agama yang berlaku.

E. UPACARA PANGGIH

Upacara panggih dalam perkaiwanan adat jawa menjadi puncak dari rangkaian upacara adat yang mendahuluinya. Upacara ini dalam arti luas meliputi upacara.
- penyerahan sanggan
keluarnya pengantin wanita yang didahului kembar mayang.
- balang balangan suruh.
- wijikan dan memecah telur
- masak menuju perkawinan
- tampa kaya
- dahar klimah
- penjemputan besan dan sungkeman
Upacara panggih yang bernafaskan adat ini biasanya dikaitkan dengan acara andrawina, atau pesta resepsi.

1. Perlengkapan upacara panggih.
Sebagaimana upacara adat lainnya, untuk upacara ini dibutuhkan beberapa perlengkapan yang mempunyai makna simbolis. Perlengkapan tersebut adalah :

a.

Untuk upacara balang-balang suruh yang dilanjutkan dengan wijikan dan memecah telur :
1. tuju lintingan daun sirih yang diikat dengan benang.
2. sepasang kembar mayang.
3. sanggan yang terdiri dari pisang raja satu tangkup, benang lawe, dan sirih ayu yang disusun dalam baki atau tembor
4. ranu pada, yaitu sejenis nampan untuk upacara wijikan.
5. bokor air sritaman yaitu bokor yang diisi air dan ditaburi bunga sritaman
6. telur ayam kampung yang dimasukkan ke dalam bokor tersebut.

b.

Untuk upacara tampa kaya
1) kain mori putih: 25 cm x 25 cm
2) kaya, yang terdiri dari aneka biji-bijian, antara lain: biji jagung, kedelai, gabah padi yang masih berkulit, beras, dll;uang recehan dari logam dari yang paling kecil sampai yang paling besar, berjumlah genap; dlingo bengle dan bunga telon.

c.

Untuk upacara dhahar klimah:
1) piring kosong dan serbet
2) nasi kuning dengan lauk : hati ayam, pindang asap, telur dadar, kedelai, dan uler- uleran
3) minuman teh

Selain perlengkapan adat seperti diatas, orang tua pengantin hendaknya mengenakan busana mataraman, atau busana adat Yogyakarta. Kain yang dikenakan motif truntum, yang mempunyai makna agar rejekinya terus mengalir. Selain itu, juga dikenakan sindur, yaitu kain mori yang diberi warna merah muda dengan pinggiran putih digunakan untuk ikat pinggang, dsb. Sindur menjadi tanda bahwa orang yang mengenakannya adalah orang yang mempunyai hajatan. Untuk ibu pengantin, sindur dipakai diluar stagen seperti memakai angkin, sedangkan untuk ayah pengantin, sindur dipakai di luar baju.

2. Pelaksanaan Upacara Panggih

Langkah-langkah upacara panggih adat Yogyakarta sebagai berikut.

1)

Pengantin pria yang didampingi penganthi (pendamping) pria dan diikuti oleh para pengombyong atau pengiring sampai di tempat upacara. Kedatangan pengantin pria ini disambut dengan gending bindri. Formasi iring- iringannya demikian: pembawa sanggan berada paling depan diikuti oleh pengantin pria yang didampingi oleh dua pendamping pria, kemudian para pengiring.

2)

Rombongan pengantin pria berhenti pada tempat yang ditentukan biasanya didepan tarub, hiasan janur pada pintu gerbang tempat resepsi. Pembawa sanggan yang terdiri dari dua orang ibu didampingi seorang ibu pembawa sanggan, langsung masuk kedalam. Sanggan diserahkan kepada ibu pengantin wanita yang telah siap di tempat yang ditentukan. Penyerahan sanggan ini mengandung maksud memberi tahu bahwa pengantin pria sudah datang, dan memohon agar pengantin wanita dibawa keluar untuk segera diadakan upacara panggih.

3)

Setelah sanggan diterima pengantin wanita dibawa keluar dengan didahului keluarnya sepasang kembar mayang yang dibawa oleh dua orang ibu. Keluarnya pengantin pria ini diiringi dengan gendhing ladrang pengantin. Kemudian kembar mayang dibawa keluar melewati sisi kanan dan kiri pengantin pria, dan langsung dibuang dijalan simpang empat. Formasi iring-iringan pengantin wanita sebagai berikut: pembawa kembar mayang berada paling depan. Kemudian, dibelakangnya diikuti oleh sepasang patah. Selanjutnya, pengantin wanita yang didampingi oleh penganthi putri Terakhir domas, yang berfungsi sebagai pengiring pengantin, menempati urutan dibelakang pengantin.

4)

Setelah kedua pengantin sampai didepan tarup, tanpa perlu diberi aba-aba langsung dilaksanakan upacara balang-balangan suruh. Caranya : pengantin pria dan pengantin wanita saling melempar dengan tangan kanan dan kiri. Pengantin pria melempar empat kali, sedangkan pengantin wanita hanya tiga kali.

5)

Selanjutnya pengantin pria dan wanita mendekat pada ranu pada untuk memulai upacara wijikan. Caranya kedua alas kaki pengantin pria dilepas, kemudian kedua kaki di masukkan kedalam ranu pada. Pengantin wanita berjongkok didepan pengantin pria dan membasuh kedua kakinya sekurang-kurangya sampai 3 kali guyuran, kemudian pengantin wanita memberihkannya. Selanjutnya, pengantin pria kembali mengenakan alas kaki.

6)

Upacara wijikan dilanjutkan dengan upacara memecah telur. Kedua pengantin berdiri saling berhadapan juru paes mengambil telur dari bokor air sritaman.Telur tadi disentuhkan pada dahi pengantin pria kemudian pada dahi pengantin wanita, seterusnya dibanting di ranu pada. Sampai disini upacara balang-balangan suruh, wijikan, dan memecah telur selesai. Ketiganya menggunakan tempat yang sama yaitu didepan tarub.

7)

Kedua mempelai berdiri berdampingan dengan kelingking tangan kiri pegantin pria dikaitkan dengan kelingking tangan kanan pengantin wanita. Dalam posisi kelingking terkait, kedua pengantin berjalan menuju pelaminan atau singgasana pengantin disini orangtua pengantin wanita sudah siap menunggu. Urutannya : patah berada paling depan. Dibelakangnya pengantin berdua yang didampingi pendamping putri yang mengambil posisi pada sisi kanan dan kiri mempelai di belakangnya lagi baru para pengiring pengantin wanita dan pria.

8.

Setelah kedua mempelai duduk disinggasana pengantin, upacara tampa kaya dimulai. Sebaiknya pelaksanaan upacara ini menunggu habisnya gending boyong atau puspo warno. Jalannya upacara tampa kaya : pengantin wanita mengambil kain mori yang sudah di siapkan dan membukanya diatas pangkuan. Pengantin putra berdiri dan mengambil kaya kemudian menuangkannya sedikit demi sedikit termasuk kain pembungkus kaya. Kedalam mori di pangkuan pengantin wanita harus diusahakan jangan sampai ada kaya yang jatuh konon bila ada yang jatuh menandakan bahwa ekonomi rumah tangga mereka akan boros. Setelah selesai, pengantin wanita mengikat kain mori yang sudah berisi kaya tersebut dan menitipkannya kepada ibunya.

9)

Upacara dahar klimah yang dilaksanakan sebagai berikut. Juru paes menyerahkan nasi kuning kepada pengantin pria dan piring kosong kepada pengantin wanita. Sesudah mencuci tangan, pengantin pria mengambil nasi kuning tersebut dengan cara dikepal sebanyak tiga kali, tiap kali ditaruh dipiring kosong yang dipegang pengantin wanita. Selanjutnya kedua pengantin wijik atau cuci tangan. Pengantin wanita kemudian memakan nasi kepalan yang ada dipiringnya. Apa yang diperbuat pengantin pria ? pengantin pria tidak ikut makan tapi hanya diam memperhatikan. Setelah upacara ini selesai, kedua mempelai minum bersama.

10)

Sampai sejauh ini pengantin pria, tampaknya belum terlibat. Memang, menurut adat jawa sampai upacara dahar klimah orang tua pengantin pria belum hadir. Ini termasuk tantangan baru sekarang orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin pria atau besan. Penjemputan besan ini dilakukan dipintu gerbang atau tarub. Mereka salng berjabat tangan kemudian masuk ketempat pahargyan. Dalam pahargyan agung yang banyak dihadiri tamu, sebaiknya ibu berjalan berdampingan dengan ibu, dan bapak dengan bapak. Sewaktu akan duduk, orangtua pengantin wanita mengantarkan besan duduk disebelah kiri pengantin wanita, baru orangtua pengantin wanita duduk disebelah kanan pengantin pria.

11)

Upacara berikutnya menunjukkan sikap hormat dan sujud kedua mempelai kepada orangtua mereka-upacara sungkem bagaimanakah upacara sungkem itu? Umumnya sungkem dilakukan sebagai berikut ; Pengantin setelah berlutut atau jongkok didepan orantuanya, menyembah. Kemudian kedua tangan pengantin, menyangga lutut kanan orangtuanya dan mencium lutut tersebut. Kedua tangan orangtua ditumpangkan pada bahu pengantin untuk memberi berkat. Terakhir, pengantin menyembah lagi.

Langkah-langkahnya demikian : Petugas mengambil keris pengantin pria kedua pengantin pria berdiri dan menuju ketempat orang tua pengantin wanita duduk pengantin wanita mendahului sungkem kepada orang tuanya, sementara itu pengantin pria berdiri dibelakangnya. Pengantin wanita kemudian bergeser sungkem kepada ibunya. Saat itu, pengantin pria sungkem, pada ayah mertuanya. Berikutnya pengantin pria bergeser sungkem kepada ibu mertuanya sementara pengantin wanita sudah berdiri dibelakang pengantin pria yang sedang sungkem. Setelah selesai, mempelai berdua pindah ketempat orangtua pengantin pria. Disini juga sungkem dengan urut-urutan seperti pada waktu sungkem kepada orangtua pengantin wanita. Setelah semua berlalu keris dipasang lagi dipinjam pengantin pria. Selanjutnya kedua mempelai kembali duduk di pelaminan.
Selama upacara panggih ini paling baik hanya diiringi gending-gending seperti puspo warno atau boyong..

Published in: on April 10, 2008 at 2:53 am  Comments (6)  

Makna Batik Dalam Pernikahan Adat Yogyakarta

Motif kain adat dapat dilihat sebagai salah satu sarana komunikasi tradisional yang memuat lambang-lambang atau simbol-simbol budaya tertentu. Simbol-simbol adat sesungguhnya dapat berlaku sebagai pranata karena dengan makna dibalik simbol itu, setiap penerima simbol akan menyadari sesuatu yang harus dan tidak harus dijalankannya. Sehingga motif batik tradisional merupakan pesan nonverbal.

Masyarakat Jawa sampai sekarang masih mempunyai kepercayaan terhadap “batik tradisional” yang bermotif tertentu. Adapun kepercayaan ini antara lain tercermin pada upacara adat pernikahan Jawa, dimana mereka memiliki kepercayaan bahwa batik sebagai salah satu alat perlengkapan pernikahan adat dianggap mempunyai kekuatan magis, dan pernikahannyapun menurut aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilangggar begitu saja. Disamping itu pada sementara orang Jawa masih pula hidup pemikiran bahwa motif batik tradisional yang sering digunakan sebagai alat perlengkapan upacara pernikahan adat Jawa memiliki mitologi tertentu yang memberikan arti khusus dan harus mendapatkan perhatian yang khusus pula bagi para pemakainya. Pemakaian motif batik-batik tradisional tertentu baik oleh pengantin pria dan pengantin wanita, orang tua dari kedua belah pihak maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan pada proses pelaksanaan tersebut secara menyeluruh, mulai dari awal sampai akhir dari rangkaian upacara pernikahan itu, umumnya juga didasari oleh pemikiran-pemikiran tersebut diatas.

Ada 7 macam motif dalam batik tradisional yaitu: motif Sawat, motif Gurda, motif Meru, motif Semen, motif Bango Tulak, motif Sindur, motif Gadhung Mlati

Pengertian Batik

Kata Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”(www.wikipedia.com).

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja sebagai pengejawantahan Yang Maha Kuasa di dunia. Sikap ini menjadi akar nilai-nilai simbolik yang terdapat di balik corak-corak batik menurut Djajasoebrata (dalam Anas, Biranul, 1995: 64). Pola, motif dan warna dalam batik, dulu mempunyai arti simbolik. Ini disebabkan batik dulu merupakan pakaian upacara ( kain panjang, sarung, selendang, dodot, kemben, ikat kepala ), oleh karena itu harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena itu diciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religius dan magis dari upacara itu. “ Jadi batik tidak hanya untuk memperindah tubuh dan menyenangkan pandangan mata saja, tapi merupakan bagian dari upacara itu sendiri bersama dengan alat-alat upacara yang lain” ( Iwan Tirta, 1985: 3). “Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian nama terhadap motif-motif tersebut berkaitan dengan suatu harapan”

( Kuswadji, K, 1985:10-11).

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit

Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Jaman Perkembangan Islam

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik. Disebutkan masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni bafik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kainputihnyajugamemakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.

Batik Solo dan Yogyakarta

Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkem-bang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik ada 2 macam:

* Batik tulis, jika motif batik dibentuk dengan tangan
* Batik cap, jika motif batik dibentuk dengan cap (biasanya dibuat dari tembaga)

Batik Khas Yogyakarta

Bledak Sidoluhur Latar Putih

bledak-sidoluhur-latar-putih

Kegunaan : Upacara Mitoni ( Upacara Masa 7 Bulan bagi Pengantin Putri saat hamil pertama kali)

Filosofi : Yang menggunakan selalu dalam keadaan gembira.

Cakar Ayam

cakar-ayam

Kegunaan : Upacara Mitoni, Untuk Orang Tua Pengantin pada saat Upacara Tarub, siraman.

Filosofi : Cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri.

Cuwiri

cuwiri

Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi

Filosofi : Cuwiri= bersifat kecil-kecil, Pemakai kelihatan pantas/ harmonis.

Grageh Waluh

grageh-waluh

Kegunaan : Harian (bebas)

Filosofi : Orang yang memakai akan selalu mempunyai cita-cita atau tujuan tentang sesuatu.

Grompol

grompol

Kegunaan : Dipakai oleh Ibu mempelai puteri pada saat siraman

Filosofi : Grompol, berarti berkumpul atau bersatu, dengan memakai kain ini diharapkan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, keturunan, kebahagiaan hidup, dll.

Harjuno Manah

harjuno-manah

Kegunaan : Upacara Pisowanan / Menghadap Raja bagi kalangan Kraton

Filosofi : Orang yang memakai apabila mempunyai keinginan akan dapat tercapai.

Jalu Mampang

jalu-mampang

Kegunaan : Untuk menghadiri Upacara Pernikahan

Filosofi : Memberikan dorongan semangat kehidupan serta memberikan restu bagi pengantin.

Jawah Liris Seling Sawat Gurdo

jawah-liris-seling-sawat-gurdo

Kegunaan : Berbusana

Filosofi : Jawah liris=gerimis

Kasatrian

kasatrian

Kegunaan : Dipakai pengiring waktu upacara kirab pengantin

Filosofi : Si pemakai agar kelihatan gagah dan memiliki sifat ksatria.

Kawung Picis

kawung-picis

Kegunaan : Dikenakan di kalangan kerajaan

Filosofi : Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru ( pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali kea rah perbuatan baik). Juga melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia.

Kembang Temu Latar Putih

Kegunaan : Bepergian, pesta

Filosofi : Kembang temu = temuwa. Orang yang memakai memiliki sikap dewasa (temuwa).

Klitik

klitik

Kegunaan : Busana Daerah

Filosofi : Orang yang memakai menunjukkan kewibawaan.

Latar Putih Cantel Sawat Gurdo

latar-putih-cantel-sawat-gurdo

Kegunaan : Busana Daerah

Filosofi : Bila dipakai menjadikan wibawa.

Lerek Parang Centung

lerek-parang-centung

Kegunaan : Mitoni, dipakai pesta

Filosofi : Parang centung = wis ceta macak, kalau dipakai kelihatan cantik (macak).

Lung Kangkung

lung-kangkung

Kegunaan : Pakaian harian

Filosofi : Lung (Pulung), aslinya dengan memakai kain tersebut akan mendatangkan pulung (rezeki)

.Nitik

nitik

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Orang yang memakai adalah bijaksana, dapat menilai orang lain.

Nitik Ketongkeng

nitik-ketongkeng

Kegunaan : Bebas

Filosofi : Biasanya dipakai oleh orang tua sehingga menjadikan banyak rejeki dan luwes pantes.

Nogo Gini

nogo-gini

Kegunaan : Upacara temanten Jawa (Gandeng temanten)

Filosofi : Apabila memakai kain tersebut kepada pengantin akan mendapatkan barokah (rezeki).

Nogosari

nagasari

Kegunaan : Untuk upacara mitoni

Filosofi : Nogosari nama sejenis pohon, motif batik ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Parang Barong

parang-barong

Kegunaan : Dipakai oleh Sultan/Raja.

Filosofi : Bermakna kekuasaan serta kewibawaan seorang Raja.

Parang Bligon, Ceplok Nitik Kembang Randu

parang-bligon-ceplok-nitik-kembang-randu

Kegunaan : Menghadiri Pesta

Filosofi : Parang Bligo = bentuk bulat berarti kemantapan hati.

Kembang Randu = melambangkan uang si pemakai memiliki kemantapan dalam hidup dan banyak rejeki.

Parang Curigo, Ceplok Kepet

parang-curigo-ceplok-kepet

Kegunaan : Berbusana, menghadiri pesta

Filosofi : Curigo = keris, kepet = isis

Si pemakai memiliki kecerdasan, kewibawaan serta ketenangan.

Parang Grompol

parang-grompol

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Orang yang memakai akan mempunyai rezeki yang banyak.

Parang Kusumo Ceplok Mangkoro

parang-kusumo-ceplok-mangkoro

Kegunaan : Berbusana pria dan wanita

Filosofi : Parang Kusumo = Bangsawan

Mangkoro = Mahkota

Pemakai mendapatkan kedudukan, keluhuran dan dijauhkan dari marabahaya.

Parang Nitik

parang-nitik

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Orang yang memakai menjadi luwes dan pantes.

Parang Tuding

parang-tuding

Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi

Filosofi : Parang = batu karang, Tuding = ngarani = menunjuk, menunjukkan hal-hal yang baik dan menimbulkan kebaikan.

Peksi Kurung

peksi-kurung

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Orang yang memakai menjadikan gagah/berwibawa dan mempunyai kepribadian yang kuat

Prabu Anom/Parang Tuding

prabu-anomparang-tuding

Kegunaan : Upacara mitoni

Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan kedudukan yang baik, awet muda dan simpatik.

Sapit Urang

sapit-urang

Kegunaan : Koleksi lingkungan Kraton

Filosofi : Orang yang memakai mempunyai kepribadian yang baik dan hidupnya tidak sembrono.

Sekar Asem

sekar-asem

Kegunaan : Pakaian upacara adat Jawa

Filosofi : Asem (mesem : senyum)

Orang yang memakai akan selalu hidup bahagia dan bersikap ramah.

Sekar Keben

sekar-keben

Kegunaan : Pakain harian kalangan abdi dalem Kraton

Filosofi : Orang yang memakai akan memiliki pandangan yang luas dan selalu ingin maju.

Sekar Manggis

sekar-manggis

Kegunaan : Upacara tradisional Jawa

(misal : mitoni)

Filosofi : Dengan memakai kain motif tersebut, akan memberikan kesan luwes/ manis bagi si pemakai.

Sekar Polo

sekar-polo

Kegunaan : Dipakai untuk sehari-harian.

Filosofi : Orang yang memakai akan dapat memberikan dorongan/pengaruh kepada orang lain.

Semen Gurdo

semen-gurdo

Kegunaan : Untuk pesta, busana daerah

Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan berkah dan kelihatan berwibawa.

Semen Kuncoro

semen-kuncoro

Kegunaan : Pakaian harian Kraton

Filosofi : Kencono (bahasa Jawa: muncar)

Orang yang memakai akan memancarkan kebahagiaan.

Semen Mentul

semen-mentul

Kegunaan : Dipakai untuk harian

Filosofi : Orang yang memakai umumnya tidak mempunyai keinginan yang pasti.

Semen Romo Sawat Gurdo

semen-romo-sawat-gurdo

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Dipakai menjadikan macak (menarik)

Semen Romo Sawat Gurdo Cantel

semen-romo-sawat-gurdo-cantel

Kegunaan : mitoni, dipakai pesta

Filosofi : Agar selalu mendapatkan berkah Tuhan.

Sido Asih

sido-asih

Kegunaan : Bebas

Filosofi : Pemakai akan disenangi (Jawa: ditresnani) oleh banyak orang.

Sido Asih Kemoda Sungging

sido-asih-kemoda-sungging

Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi

Filosofi : Sido = Jadi, Asih = sayang. Agar disayangi setiap orang.

Sido Asih Sungut

sido-asih-sungut

Kegunaan : Temanten panggih

Filosofi : Sido berarti jadi, asih berarti sayang, ragam hias ini mempunyai makna agar hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang.

Sido Mukti Luhur

sido-mukti-luhur

Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi

Filosofi : Sido Mukti, berarti gembira, kebahagiaan untuk mengendong bayi sehingga bayi merasakan ketenangan, kegembiraan,dll.

Sido Mukti Ukel Lembat

sido-mukti-ukel-lembat

Kegunaan : Temanten panggih

Filosofi : Orang yangmemakai akan menjadi mukti.

Slobog

slobog

Kegunaan : Dipakai pada upacara kematian, dipakai pada upacara pelantikan para pejabat pemerintahan.

Filosofi : -Melambangkan harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditingalkan juga diberi kesabaran dalam menerima cobaan kehilangan salah satu keluarganya.

- Melambangkan harapan agar selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua tugas-tugas yang menjadi tangung jawabnya.

Soko Rini

soko-rini

Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi

Filosofi : Soko = orang, Rini = senang, Pemakai mendapatkan kesenangan kukuh dan abadi.

Tambal Kanoman

tambal-kanoman

Kegunaan : Dipakai orang muda, terutama untuk tingalan tahun (ulang tahun)

Filosofi : Si pemakai akan kelihatan pantas/luwes dan banyak rejeki.

Tirta Teja

tirta-teja

Kegunaan : Berbusana

Filosofi : Tirta = air, teja = cahaya. Si pemakai “gandes luwes” dan bercahaya.

Tritik Jumputan

tritik-jumputan

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Orang yang memakai menjadi luwes dan pantes.

Truntum Sri Kuncoro

truntum-sri-kuncoro

Kegunaan : Untuk orang tua pengantin pada waktu upacara panggih.

Filosofi : Truntum berarti menuntun, sebagai orang tua berkewajiban menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru atau berumah tangga yang banyak liku-likunya.

Udan Liris

udan-liris

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi ; Orang yang memakai bisa menghindari hal-hal yang kurang baik.

Wahyu Tumurun

wahyu-tumurun

Kegunaan : Busana daerah

Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan wahyu (anugerah).

Wahyu Tumurun Cantel

wahyu-tumurun-cantel

Kegunaan : Dipakai Pengantin pada waktu panggih

Filosofi : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini kedua pengantin mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.

Pemaparan Makna Simbolik Motif Batik Tradisional

Berdasarkan observasi dan serangkaian wawancara yang penulis lakukan dalam penelitian, ternyata batik tradisional mempunyai motif yang beraneka ragam dan motif-motif ini masih lestari sampai sekarang.Motif-motif tersebut terdiri dari:

1.Motif Sawat

Kata sawat berarti melempar ( Jawa: balang). Motif ini sebenarnya berawal dari kepercayaan orang-orang Jawa akan adanya seorang dewa yang bernama Batara Indra. Menurut para informan, Batara Indra memiliki sebuah senjata pusaka yang disebut wajra atau bajra, yang berarti pula thathit (kilat). Cara menggunakan senjata pusaka ini adalah dengan melemparkan (Jawa: nyawatake). Menurut mereka, bentuk senjata pusaka tersebut menyerupai seekor ular yang bertaring tajam serta bersayap (Jawa: mawa lar), sehingga jalannya sangat cepat dan tidak terlihat oleh indera mata, sebab hanya berupa sinar merah di angkasa. Senjata pusaka itu bila dilemparkan akan menyambar-nyambar di uadara dan mengeluarkan suara yang amat keras dan menakutkan. Walaupun menakutkan, wajra juga mendatangkan kegembiraan sebab ia dianggap sebagai pembawa hujan yang akan mendatangkan kemakmuran bagi umat manusia. Senjata pusaka Batara Indra ini diwujudkan ke dalam motif batik berupa sebelah sayap dengan harapan agar si pemakai akan selalu mendapatkan perlindungan dalam kehidupannya.

2. Motif Gurda

Motif Gurda lebih mudah dimengerti karena disamping bentuknya yang sederhana juga gambarnya sangat jelas karena tidak terlalu banyak variasinya. Kata gurda berasal dari kata garuda, yaitu nama sejenis burung besar yang menurut pandangan hidup orang Jawa khususnya Yogyakarta mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bentuk motif gurda ini terdiri dari dua buah sayap (lar) dan ditengah-tengahnya terdapat badan dan ekor. Menurut orang Yogyakarta burung ini dianggap sebagai binatang yang suci.

Dalam cerita kenaikan Batara Wisnu ke Nirwana dengan mengendarai burung Garuda.Burung ini dianggap sebagai burung yang teguh timbul tanpa maguru, yang artinya sakti tanpa berguru kepada siapapun. Adapun cerita tentang asal mula Garuda menjadi kendaraan Sang Hyang Wisnu, menurut salah seorang informan berawal ketika terjadi peperangan antara Garuda dengan para dewa. Dalam peperangan tersebut para dewa dapat dikalahkan , sehingga mereka meminta bantuan pada Sang Hyang Wisnu, yang kemudian menemui burung Garuda. Pada pertemuan itu terjadi perdebatan diantara keduanya. Oleh karena para dewa telah mengalami kekalahan maka burung Garuda mengajukan usul agar para dewa mengajukan permohonan apa saja yang nantinya akan dikabulkan oleh Garuda. Akhirnya Sang Hyang Wisnu mengajukan permohonan agar Garuda bersedia menjadi tunggangannya untuk mengantarkan kembali ke Sorga Loka (tempat tinggal para dewa).

Menurut pendapat orang Yogyakarta Sang Hyang Wisnu sering disebut sebagai Sang Surya yang berarti matahari atau dewa matahari. Berdasarkan peristiwa diatas, bahwa akhirnya Garuda menjadi tunggangannya Sang Dewa Matahari, maka kemudian Garuda juga dijadikan sebagai lambang matahari. Kecuali itu Garuda dianggap pula sebagai lambing kejantanan. Dasar pemikirannya adalah, karena Garuda sebagai lambang matahari, maka Garuda dipandang sebagai sumber kehidupan yang utama, sekaligus ia merupakan lambang kejantanan, dan diharapkan agar selalu menerangi kehidupan umat manusia di dunia. Hal inilah kiranya mengapa orang Yogyakarta mewujudkan burung yang suci ini kedalam motif batik.

3. Motif Meru

Motif meru, menurut kepercayaan orang Yogyakarta motif ini juga memiliki latar belakang tersendiri yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut. Meru berasal dari kata Mahameru, yaitu nama sebuah gunung yang dianggap sakral karena menjadi tempat tinggal atau singgasana bagi Tri Murti yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Siwa. Menurut salah seorang informan, di puncak Gunung Mahameru terdapat air keramat yang dinamakan tirta kamandalu, yaitu air yang merupakan sumber kehidupan abadi. Demikianlah Tri Murti dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan, sumber kemakmuran, dan segala kebahagiaan hidup di dunia. Berdasarkan keyakinan seperti di atas maka orang-orang Yogyakarta mewujudkan pandangannya tersebut ke dalam motif batik, dengan harapan agar mendapatkan berkah dari Tri Murti.

Motif meru ini selain dituangkan dalam lukisan batik, biasanya juga digunakan sebagai motif paes (rias) bagi para pengantin wanita adat Yogyakarta.

4. Motif Semen

Motif semen berkaitan erat dengan motif meru, karena kata semen mempunyai arti semi atau tunas, dan dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa di Gunung Mahameru ataupun pegunungan pada umumnya selalu terdapat tunas-tunas atau tumbuh-tumbuhan yang selalu bersemi. Dalam kepercayaan masyarakat Yogyakarta, di Gunung Mahameru terdapat pohon-pohon yang dianggap sakral. Lebih lanjut salah seorang menceritakan bahwa menurut orang Yogyakarta pepohonan yang dianggap sakral terdiri dari pohon sandilata (pohon hidup) yaitu pohon yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati; pohon soma yang tumbuh di puncak Mahameru, yang dapat memberikan kesaktian; pohon jambuwreksa, yang tumbuh di sebelah barat laut , yang mempunyai ketinggian sampai menjulang ke angkasa dengan cabang-cabang yang sangat banyak. Selain itu, di Gunung Mahameru terdapat juga pepohonan yang menjadi milik dari masing-masing Dewa Tri Murti. Pohon acwata yang akarnya menjulur ke bawah dianggap sebagai lambang milik Sang Hyang Wisnu, melambangkan sinar matahari sebagai pohon yang kekal abadi. Pohon plasa dianggap milik Sang Hyang Brahma, sedangkan pohon milik Sang Hyang Siwa dilambangkan dengan pohon nyagroda.

Oleh karena pohon-pohon suci yang terdapat di Gunung Mahameru dipercaya orang Yogyakarta sebagai salah satu bagian dari sumber kehidupan manusia di dunia, maka diwujudkan dalam bentuk motif batik. Di balik bentuk itulah terkandung harapan agar si pemakai selalu dapat berhubungan dengan Sang Maha Pencipta.

Selain jenis motif-motif sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, yaitu motif-motif yang biasanya terdapat pada kain batik ataupun yang merupakan bagian dari berbagai motif pada sebuah kain batik, ada beberapa motif yang tidak merupakan bagaian dari sebuah kain batik. Motif jenis ini berupa kain tersendiri, yang biasanya motifnya berdasarkan atau berbentuk dari dua macam warna. Adapun jenis motif semacam ini antara lain adalah sebagai berikut

1. Motif Bango-tulak
Motif ini merupakan kombinasi dari dua warna hitam dan putih, di mana hitam di sebelah luar, memberi batas pada warna putih yang ada di sebelah dalam. Motif ini dianggap sebagai motif tertua. Menurut informan; nama Bango-tulak diambil dari nama seekor burung yang mempunyai warna hitam dan putih yaitu tulak. Menurut orang-orang Yogyakarta burung ini dianggap sebagai hal yang melambangkan umur panjang. Warna hitam diartikan sebagai lambang kekal (Jawa: langgeng), sedang warna putih sebagai lambang hidup (sinar kehidupan), dengan demikian hitam-putih melambangkan hidup kekal. Menurut orang Yogyakarta, hidup yang kekal itu hanya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi hitam dan putih disini mengandung maksud menyerahkan atau mengharapkan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam pandangan hidup orang Yogyakarta, hal ini disebut dengan istilah Jumbuhing Kawula Gusti (penyatuan hamba dan Tuhan).

Pada perkembangan selanjutnya nama bango-tulak menjadi bangun-tulak. Kata bangun mempunyai arti bangun tidur dan membangun, memperbaiki atau mempengaruhi. Sedangkan kata tulak, berarti sarat untuk menyingkirkan penyakit atau bahaya. Bangun-tulak berarti membangun atau membuat sarat untuk menyingkirkan bahaya dan penyakit agar manusia dapat selamat dalam hidupnya. Motif ini sampai sekarang masih sering dipergunakan baik sebagai pakaian sehari-hari, biasanya dipakai oleh para pegawai Kraton, juga dipergunakan sebagai perlengkapan upacara-upacara sesuai dengan kepercayaan yang ada. Misalnya dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, terutama apabila rumah tersebut mempergunakan tiang-tiang kayu, maka kain ini dipergunakan sebagai penutup ujung tiang atas sebagai penyangga blandar.

2. Motif Sindur

Motif sindur merupakan motif kain yang memiliki kombinasi warna merah dan putih. Warna merah terdapat pada bagian tengah, dan putih pada bagian pinggir yang membentuk gelombang. Motif sindur sering dipergunakan pada waktu orang melaksanakan upacara pernikahan sebagai tanda bahwa ia adalah tuan rumah yang mempunyai hajat. Kain ini dipakai oleh orang tua si pengantin dengan cara diikatkan pada pinggang. Berdasarkan keterangan dari beberapa informan, warna merah dan putih melambangkan permulaan (asal mula) dari hidup atau purwaning dumadi. Menurut informan lebih lanjut, bahwa hal itu dikarenakan dari makna warna-warna itu sendiri, yaitu putih mengandung arti hidup (bapa) sedang merah melambangkan arti suci (biyung). Mengenai warna merah yang melambangkan kesucian ini, para informan menjelaskan bahwa hal tersebut dapat diketahui dari cerita Ramayana, di mana ia mengkisahkan ketika Sinta pulang dari Alengka ia tidak dipercaya kesuciannya oleh Rama, hal ini karena ia telah lama berpisah dengan Rama, dan dekat dengan Dasamuka. Dari ketidakpercayaan Rama ini, kemudian Sinta menunjukkan kesuciannya kepada Rama dengan cara membakar diri, akan tetapi ternyata ia tidak mati. Hal tersebut adalah suatu bukti bahwa Sinta masih suci. Dari uraian inilah, kemudian warna merah sebagai perwujudan dari api dilambangkan sebagai kesucian atau sebagai lambang Ibu (Jawa: biyung). Selanjutnya dari informan dijelaskan bahwa, dalam upacara pernikahan kedua warna tersebut, yaitu merah dan putih diartikan sebagai permulaan dari segala kejadian hidup. Dengan demikian dalam upacara pernikahan, pemakaian sindur dimaksudkan mempertemukan laki-laki dan perempuan sebagai cikal bakal dari kelahiran hidup di dunia.

3. Motif Gadhung Mlathi

Motif Gadhung mlathi merupakan kombinasi dari warna hijau dan putih, warna putih terletak di tengah dan hijau di bagian pinggir. Motif ini sering pula dipergunakan oleh pengantin pria maupun pengantin wanita. Namun sekarang motif ini jarang dipergunakan lagi pada kain (jarik), melainkan hanya kemben bagi wanita dan destar (iket) yaitu ikat kepala bagi pria.

Kata gadhung, menurut seorang informan adalah mempunyai arti hijau (warna hijau) yang melambangkan kemakmuran, ayom-ayem, yaitu tenteram atau damai. Maksud dari arti makmur disini tidak hanya kaya harta benda saja tetapi juga kaya jiwanya dan memiliki banyak pengetahuan, karena mereka yakin bahwa apabila orang memiliki banyak pengetahuan lahir batin dapat memberi ketenteraman dan kedamaian hidup. Mlathi adalah bunga melati yang berwarna putih dan berbau harum. Bau harum dari bunga itu sendiri dianggap orang mengandung kesusilaan atau rasa susila, sehingga sejak dahulu sampai sekarang bunga melati mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Oleh karena itu para pemakai motif ini berharap agar mereka dapat hidup makmur baik lahir maupun batin.

Bentuk Perlengkapan Batik Tradisional Dalam Pernikahan Adat Yogyakarta

Di dalam pernikahan adat Yogyakarta, mempelai pria dan wanita yang melakukan pernikahan disebut temanten atau pengantin. Bagi orang tua kedua belah pihak yang sedang menyelenggarakan upacara ini disebut sedang punya hajat mantu(menantu), dan pengantin tersebut oleh kedua orang tua masing-masing pihak disebut sebagai mantune (menantunya).

Menurut pikiran orang-orang Jawa khususnya Yogyakarta, mempunyai hajat (kerja) mantu berarti mempunyai kerja menambah anggota keluarga (Jawa: duwe gawe mantu) yang merupakan pekerjaan yang tidak ringan dan cukup banyak membutuhkan tenaga, pikiran dan harta. Kecuali itu, orang-orang Jawa khususnya Yogyakarta beranggapan bahwa menambah anggota keluarga tidak boleh secara sembarangan. Oleh sebab itu dalam rangka menambah anggota keluarga tersebut si calon menantu harus betul-betul diselidiki agar tidak mengecewakan, sehingga bobot (kedudukan), bibit (keturunan), bebet (silsilah) serta hal-hal lain yang dianggap baik dari calon menantunya benar-benar mendapat perhatian. Namun demikian, sekarang ini yang lebih dipentingkan terutama adalah mengenai diri si calon menantu itu sendiri, apakah ia orang baik-baik, keturunan orang yang jelas dan baik, dan apakah ia sudah bekerja bagi calon pengantin prianya.

Sebelum acara lamaran ada suatu tahap yang disebut nontoni,nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dikawininya. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya.

Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Setelah orang tua si perjaka yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia.

Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan siperjaka sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah diantara orang tua / pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran. Jika kedua belah pihak telah saling menyetujui, maka mulailah pihak orang tua pria mengajukan lamaran kepada calon besannya. Kemudian sesudah itu mereka mengadakan perundingan tentang penentuan hari pernikahan. Penetapan tanggal, bulan dan tahun, biasanya mereka hitung dengan melihat pedoman-pedoman pada buku primbon yang ada ataupun bertanya kepada orang yang ahli dalam hitungan Jawa. Disamping itu orang Jawa khususnya Yogyakarta juga mempunyai syarat-syarat yang tidak boleh dilanggar, misalnya hari pasaran, dari hari pernikahan ini tidak boleh sama dengan hari pasaran meninggalnya orang tua, nenek ataupun salah seorang dari keluarga si calon pengantin. Setelah ada kesepakatan mengenai hari, tanggal, bulan dan tahun maka mulailah diadakan segala macam persiapan yang berhubungan dengan upacara tersebut sebaik-baiknya, karena yang akan menyelenggarakan pesta atau upacara pernikahan adat Yogyakarta, biasanya sedapat mungkin ingin melaksanakan segala sesuatunya secara lengkap sesuai dengan tata cara dan urutan ataupun hal-hal lain sebagaimana mestinya. Menurut adat Jawa Gaya Yogyakarta , bentuk rangkaian tata cara dalam pelaksanaan upacara pernikahan khususnya yang berhubungan dengan pemakaian batik tradisional sebagai salah satu alat perlengkapannya menurut A. N Suyanto dalam Sejarah Batik Yogyakarta (2002) dan menurut informan adalah sebagai berikut:

Tarub

Istilah tarub sebenarnya bukan merupakan hal yang baru bagi kita khususnya bagi penduduk Yogyakarta. Adapun tarub itu tidak lain adalah hiasan dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang ditempelkan pada tepi tratag (= tratag tambahan yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang masih hijau (bleketepe)).

Andaikata rumah tempat keluarga yang mempunyai hajat tersebut cukup memungkinkan untuk menampung para tamu, maka tratag dapat dibuat sepantasnya saja, karena hal ini sudah menjadi tradisi ataupun syarat yang tidak boleh terlupakan.

Menurut naluri bagi keluarga yang mempunyai suatu hajat, pemasangan tarub ini dilaksanakan menurut saat atau perhitungan waktu. Demikian juga dalam hajat pernikahan pemasangan tratag beserta tarubnya dilaksanakan menurut saat pula atau bersamaan dengan memandikan calon pengantin, dalam bahasa Jawa lazim disebut Siraman, yaitu sehari sebelum pernikahan dilaksanakan.

Pada saat upacara tarub, orang tua pengantin wanita memakai kain batik motif cakar ayam, bapak memakai sabuk sindur, dan Ibu mengenakan kemben sindur.

Siraman

Secara harafiah kata siraman artinya adalah cara atau hal mandi, yang berasal dari kata siram. Upacara ini sering disebut upacara nyirami, yang artinya memandikan, yaitu memandikan calon pengantin dengan maksud disucikan. Acara ini dilaksanakan sehari sebelum acara pernikahan, dan biasanya dilakukan oleh beberapa orang wanita yang sudah tua dan telah banyak pengalaman hidup, sehingga diharapkan dapat memberikan tuah dan doa restu kepada para calon pengantin.

Pada waktu disirami pengantin memakai kain batik yang motifnya bebas. Pada saat upacara pengantin memakai kain mori sebagai sebagai telesan, setelah selesai siraman mempelai wanita keluar dari ruang mandi memakai kain dengan motif grompol. Pada saat upacara siraman, ibu dari mempelai wanita memakai kain batik yang bermotif cakar, yang mengandung makna agar calon pengantin dapat mencari nafkah atau rejeki dengan baik untuk mencukupi kebutuhan keluarganya kelak. Setelah upacara siraman selesai, mempelai wanita keluar dari ruang mandi untuk kemudian dirias. Menjelang dirias mempelai wanita diberi pakaian dengan menggunakan kain bermotif truntum, pada saat yang sama tidak diperbolehkan memakai perhiasan sampai dengan upacara midodareni selesai. Pada saat dirias calon mempelai wanita duduk di atas tikar yang disebut klasa bangka ialah tikar daun pandan yang anyamannya kasar, yang di dalamnya kemudian diisi dengan berbagai dedaunan dan berbagai macam kain batik. Adapun kain-kain batik tersebut antara lain adalah kain bango tulak, gadhung mlathi, sindur dan lain-lain, yang kemudian ditutup dengan kain yang disebut kain mancawarna. Menurut kepercayaan orang Jawa khususnya Yogyakarta, kain mancawarna ini melambangkan arah mata angin, yaitu timur dilambangkan dengan warna putih dengan dewanya Maheswara; selatan dilambangkan dengan warna merah dengan dewanya adalah Sang Hyang Brahma; barat dengan warna kuning dengan dewanya yaitu Maha Dewa atau Batara Kala; dan sebelah utara dilambangkan warna hitam dengan dewanya adalah Batara Wisnu; sedangkan di tengah- tengah sebagai pusat dari empat penjuru mata angin tersebut adalah Dewa Siwa. Jadi dengan demikian mempelai yang sedang dirias itu duduk di tengah atau di pusat dan menjadi pusat perhatian, dengan harapan semoga segala kebaikan memusat pada mempelai.

Midodareni

Acara ini dilakukan pada malam hari setelah acara siraman. Kata midodareni berasal dari kata widodari yang artinya bidadari. Menurut kepercayaan orang Jawa khususnya Yogyakarta, pada malam midodareni para bidadari turun dari kahyangan atas perintah Batara Guru (Batara Siwa) untuk merias pengantin wanita agar cantik jelita laksana Dewi Sembadra, sedang pengantin prianya seperti Arjuna. Oleh sebab itulah baik pengantin pria maupun wanita dianjurkan untuk berjaga-jaga dan tidak tidur setidak-tidaknya sampai pukul 12 malam.

Pada malam midodareni, calon pengantin mengenakan kain batik parang-kusumo, yang dianggap sebagai bunga di tengah-tengah para tamu atau kerabatnya. Di samping itu juga sering digunakan kain batik parang gondo-suli. Kata gondo berarti bau, sedang suli adalah bunga, dengan demikian kedua pasangan pengantin yang mengenakan kain tersebut diharapkan agar kelak dikemudian hari dapat menjadi orang yang sejahtera dan selalu sukses.

Akad Nikah

Acara ini merupakan acara puncak dan yang paling dinanti-nanti, karena akad nikah merupakan inti dari semua rangkaian upacara pernikahan tersebut. Upacara ini biasanya diselenggarakan pada pagi hari sesudah malam midodareni.

Umumnya akad nikah dilakukan berdasarkan agama atau kepercayaannya masing-masing. Untuk orang Jawa khususnya Yogyakarta yang beragama Islam, akad nikah dilakukan dihadapan penghulu, atau naib, yang dapat dilangsungkan di masjid ataupun rumah kediaman mempelai wanita. Antara mempelai pria dan wanita, acara ini dilangsungkan pada saat yang sama hanya saja di ruangan yang berbeda. Pada saat upacara ijab kabul, pengantin pria duduk diatas tikar (Jawa: klasa bangka) yang diisi dengan bermacam-macam daun yang kemudian ditutup dengan mori (kain yang berwarna putih) yang melambangkan sinar positif atau hidup.

Published in: on April 9, 2008 at 9:07 am  Comments (38)  

Makna Batik dalam Pernikahan Adat Yogyakarta (Lanjutan)

Panggih

Setelah acara ijab kabul selesai, segeradilanjutkan dengan upacara yang disebut panggih, yaitu bertemunya pengantin yang didahului acara saling melempar sirih. Menurut adat istiadat Yogyakarta , dalam upacara pernikahan baik pengantin wanita maupun pengantin pria mengenakan kain batik yang bermotif sama atau kembar baik warna maupun polanya. Biasanya kain batik yang digunakan adalah kain sidomukti, akan tetapi sebenarnya masih cukup banyak kain batik lainnya yang dirancang khusus untuk keperluan para calon pengantin. Selain memilih motif yang indah, pada umumnya kain batik yang dipergunakan oleh pasangan pengantin adalah kain batik yang berkualitas paling baik. Kain-kain batik yang dipergunakan oleh para pengantin ini biasanya mengandung banyak arti yang masing-masing kain berbeda antara yang satu dan lainnya. Selain kedua pasangan pengantin, pada kesempatan itu pula para orang tua dari kedua belah pihak biasanya juga mempergunakan kain batik yang serupa. Adapun beberapa kain batik yang sering dipergunakan dalam upacara pernikahan adat Jawa Gaya Yogyakarta adalah kain-kain batik sebagai berikut:

a. Kain batik yang sering dipergunakan oleh para orang tua kedua mempelai:

1. Kain Batik Truntum, kain batik ini di dalamnya terdapat beberapa motif, yaitu motif gurda dan motif truntum itu sendiri. Motif truntum sebenarnya termasuk jenis semen, karena arti truntum itu berarti juga bersemi atau tumbuh. Selain itu ada hubungannya dengan kata tumruntum, yang berarti berturut-turut dan merata. Motif truntum ini bentuknya terdiri dari segi tiga runcing berjumlah delapan, dan terdapat bulatan di tengahnya sehingga menyerupai bunga-bunga kecil. Adapun maksud yang terkandung dari kain batik ini secara keseluruhan adalah, agar adik-adik si calon pengantin nantinya dapat mengikuti jejak kakaknya berumah tangga, dan dapat dilakukan dengan selamat sebagaimana kakaknya terdahulu. Di samping itu, dengan menggunakan kain batik ini bermakna agar kedua pengantin bisa terus rukun, segera mempunyai keturunan serta mendapat banyak rejeki, dan selamat dalam berumah tangga.

2. Kain Batik Cakar Ayam, cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga

sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri.

3. Kain Batik Grompol, grompol atau grombol, dalam Bahasa Jawa berarti berkumpul atau bersatu. Kain batik dengan motif ini biasa dikenakan pada saat upacara pernikahan oleh orang tua mempelai, baik calon mempelai pria atau calon mempelai wanita. Motif ini melambangkan harapan pemakai bahwa akan berkumpul semua sanak saudara dan tamu-tamu sehingga pesta pernikahan dapat berjalan meriah. Juga berkumpulnya semua hal yang baik yaitu rejeki, kebahagiaan, kerukunan hidup, ketenteraman untuk kedua keluarga tersebut. Namun juga dengan harapan bahwa pasangan keluarga baru itu nanti sejauh kemanapun perginya, tetap akan dapat mengumpul atau mengingat kepada induknya atau keluarga besarnya.

4. Kain Batik Truntum, truntum berasal dari kata tum-tum artinya tumbuh kembali, namun ada yang mengatakan truntum berasal dari tumaruntum yang berarti menuntun, atau juga sering dikaitkan dengan tentrem (bahasa Jawa) yang berarti tenteram. Motif ini diciptakan oleh istri Raja yang sedang dilupakan karena Raja mempunyai kekasih baru. Untuk melupakan kepedihan hati, sang Ratu mulai membatik dengan motif bintang kecil dilangit yang selama ini menemaninya dalam kesepian dengan disertai doa agar sang Raja kembali kepadanya. Ketelatenan Ratu dalam membatik dapat menarik perhatian Raja kepada sang Ratu kembali, sehingga cinta kasih yang hilang dapat tumbuh kembali. Kain ini juga biasa digunakan orang tua pengantin pada saat pesta pernikahan yang melambangkan harapan agar orang tua mampu menuntun atau memberi contoh kepada putra-putrinya dalam memasuki kehidupan berumah tangga dan mencapai ketenteraman hidup.

b. Kain batik yang sering dipergunakan oleh para pengantin:

1. Kain Batik Sidomukti. Di dalam kain batik sidomukti ini juga terdiri dari beberapa motif, diantaranya yang terpenting dan yang utama adalah motif ukel (bentuknya seperti huruf koma), semakin kecil ukelnya maka semakin tinggi mutu seninya. Selain itu, kain ini dihias dengan kotak-kotak yang bergambar kupu-kupu dan semacam kereta pengantin yang ditandu dengan bahu. Makna yang terkandung dari kain batik sidomukti adalah agar kedua pasangan pengantin tersebut bisa mukti, yaitu kebahagiaan yang sempurna yakni kebahagiaan lahir batin.

2. Kain Batik Wahyu Tumurun, kain batik ini sering pula dipilih sebagai busana pada upacara pernikahan adat Jawa Gaya Yogyakarta. Wahyu temurun merupakan kain batik yang di dalamnya terdiri dari motif utamanya adalah termasuk motif semen. Dari arti katanya, wahyu memiliki pengertian sebagai kebahagiaan anugrah Tuhan (Jawa: pulung nugrahaning Allah), yaitu anugrah yang dapat berupa pangkat, derajat, kedudukan, keuntungan, dan lain-lain kemuliaan yang menjadi bagian dari sumber kebahagiaan umat manusia. Demikianlah wahyu temurun sebagai kain batik yang dipergunakan dalam pernikahan, memberikan makna dan harapan agar si pemakai mendapatkan anugerah kebahagiaan dari Sang Maha Pencipta di kelak kemudian hari.

3. Kain Batik Sido Asih, Sido berarti jadi, asih berarti sayang, ragam hias ini mempunyai makna agar hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang.

4. Kain Sindur, kain sindur juga diperuntukkan pula bagi kedua pengantin saat upacara panggih, dengan cara dikalungkan kepada keduanya secara bersama-sama, yang mengandung maksud bahwa pertemuan ini dianggap sebagai lambang dari permulaan akan adanya kelahiran atau suatu kehidupan baru di dunia. Dengan berakhirnya acara panggih, maka rangkaian upacara pokok pernikahan adat inipun dianggap selesai.

Sebagaimana kita ketahui upacara pernikahan merupakan salah satu perwujudan dari upacara ritual yang berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang untuk memohon perlindungan kepada kekuatan-kekuatan yang berada di luar diri manusia, maka batik tradisional sebagai salah satu alat perlengkapan pada upacara pernikahan tersebut menunjukkan bahwa di dalamnya sebenarnya mengandung arti yang sangat penting bagi para pemakainya. Pada dasarnya, batik-batik tradisional itu dimaksudkan untuk menggambarkan adanya daya-daya kekuatan yang menguasai alam semesta, yang tercermin dalam motif-motif batik tradisional tersebut. Kecuali itu, motif-motif batik ini sebenarnya juga dimaksudkan untuk memberikan jaminan maupun harapan-harapan bagi kehidupan manusia, misalnya ia berharap agar mendapat banyak rejeki, panjang usia, dikaruniai keturunan dan lain-lain yang sifatnya membahagiakan serta berharap pula agar terhindar dari malapetaka dan kemalangan-kemalangan yang di derita selama hidup di dunia. Dengan kata lain bahwa, sebenarnya batik-batik tradisional merupakan lambing sebagai alat penghubung antara manusia dengan alam supernaturalnya.

Namun demikian, arti mengenai peranan batik tradisional dalam pernikahan adat Yogyakarta, tentunya tidak terlepas dari pemahaman ataupun penghayatan seseorang terhadap batik-batik itu sendiri, maupun terhadap makna upacara pernikahan tersebut pada umumnya. Sedangkan pemahaman ataupun penghayatan dari seseorang terhadap sesuatu hal, biasanya sangat dipengaruhi oleh persepsi dari orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang dilihatnya tadi.

Seperti dapat kita ketahui, akibat dari arus informasi yang demikian pesat seiring dengan ditemukannya alat-alat komunikasi dan teknologi-teknologi modern lainnya, mengakibatkan di dalam suatu masyarakat otomatis terjadi pula perubahan yang sangat cepat. Hal ini sangat mempengaruhi sistem sosial, termasuk sikap dan pola tingkah laku di dalam kehidupan masyarakat.

Pengaruh pola berpikir barat yang lebih mengutamakan rasionalisasi pada setiap aspek kehidupan, dimana lembaga-lembaga pendidikan merupakan pusat-pusat terbentuknya pola pikir rasional, mau tidak mau hal demikian ikut menunjang dan bahkan mempercepat pembentukan pola berpikir dan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal sesuai dengan pola berpikir yang sedang dikembangkan. Hal-hal seperti inilah kiranya yang sedang terjadi didalam kehidupan masyarakat kita, dan khususnya dalam masyarakat Yogyakarta.

Pergeseran pola berpikir yang sedang berkembang saat ini, membawa akibat pada pembentukan persepsi seseorang akan sesuatu hal, terlebih lagi terhadap pemikiran-pemikiran yang bersifat magis religius. Demikian halnya dengan persepsi masyarakat, khususnya Yogyakarta terhadap batik tradisional yang sebetulnya memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Akan tetapi sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat yang begitu cepat, diantaranya adalah persepsi masyarakat, maka nampak bahwa pada saat-saat sekarang ini, peranan batik tradisional sebagai unsur perlengkapan upacara pernikahan, penghayatan makna keagungannya semakin hari semakin berkurang. Hal ini dapat diketahui dari penjelasan beberapa informan yang mengatakan bahwa orang tidak lagi mengetahui makna apa sebenarnya yang terkandung di dalam kain-kain batik yang mereka kenakan. Kemudian dikatakan lebih lanjut, bahwa mereka hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Disamping itu kedua orang tua dari pengantin-pengantin generasi mudapun, sebenarnya juga sudah amat sedikit pengetahuannya mengenai seluk beluk batik tradisional yang berhubungan dengan nilai-nilai magis tadi, sehingga ia hanya mengemukakan secara garis besarnya saja, dan lebih mendasarkan kepada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh nenek-nenek moyang mereka secara turun temurun dalam lingkungan keluarga mereka.

Sejalan dengan bergesernya waktu, maka orang-orang yang masih menganut pola berpikir berdasarkan pemikiran tradisional semakin hari semakin lanjut usia, sehingga jika mereka meninggal dunia, pemikiran-pemikiran mereka lambat laun akan terkikis akibat generasi berikutnya kurang mempunyai perhatian terhadap pola-pola pemikiran tersebut. Sistem pewarisan yang kurang berjalan lancar, ditambah lagi dengan perkembangan jaman yang mengakibatkan makna batik tradisional yang mengandung nilai-nilai spiritual yang luhurpun semakin tertinggal di belakang, dan bahkan lambat laun ditinggalkan. Pemakaian batik tradisional dalam upacara pernikahan hanyalah sebagai kebiasaan semata. Lebih daripada itu, kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa, perlengkapan tersebut dikenakan hanya untuk memperlihatkan kalau mereka mampu melaksanakan suatu upacara pernikahan secara utuh dan besar-besaran, sehingga dalam hal ini hanya untuk menampakkan status dan kedudukan mereka di mata masyarakat luas.

Penyebab memudarnya nilai-nilai magis yang terkandung di dalam batik tradisional, selain disebabkan oleh hal-hal diatas, adalah juga akibat dari produksi batik yang tidak lagi dikerjakan sebagaimana mula-mula batik-batik tersebut dibuat. Pada walnya, pembuatan batik tradisional dilakukan dengan penuh penghayatan oleh seseorang dengan cara melukiskan pada kain, yaitu yang kita kenal sebagai batik tulis. Namun, dengan ditemukannya alat-alat produksi modern, maka pembuatan kain-kain batikpun dilakukan secara besar-besaran sama halnya dengan produksi-produksi tekstil lainnya. Hal tersebut mengakibatkan harganya relatif murah, tahan lama, dan lebih halus. Akibatnya, dengan sendirinya orang lebih suka memilih harga yang murah dengan motif yang sama, walaupun cara pembuatannya tidak lagi dilakukan dengan penuh penghayatan sesuai dengan makna yang tersirat di dalam batik-batik tersebut. Akibat lain dari murah dan banyaknya kain batik yang beredar di masyarakat, memyebabkan kain-kain batik yang memiliki nilai magis religius tadi pemakaiannya cenderung digunakan tidak pada tempatnya. Misalnya; banyak kain-kain batik yang bermotif tradisional dipergunakan sebagai taplak meja, sprei, pakaian dan sebagainya yang sifatnya untuk keperluan sehari-hari. Dengan demikian jelaslah bahwa, faktor-faktor ini turut mempercepat lunturnya nilai-nilai magis pada motif batik tradisional yang merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang teramat agung nilai spiritualnya, yang sebenarnya hanya dimaksudkan untuk keperluan upacara-upacara tertentu saja. Demikian pula yang terjadi pada pernikahan adat Yogyakarta, penggunaan batik tradisional ini cenderung hanya dilaksanakan atau dilakukan secara praktis tanpa penghayatan batiniah lagi, sehingga kurang lagi memliki arti yang sifatnya sakral.

KESIMPULAN

Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan, dapat kita ketahui bahwa di balik batik-batik yang bermotif tradisional terdapat cerita-cerita suci mengenai alam semesta (mitologi) sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Di dalam uraian tersebut antara lain disebutkan bahwa, orang Jawa percaya akan adanya kekuatan-kekuatan baik maupun jahat yang mendiami dunia gaib yang sangat mempengaruhi kehidupan mereka selama di dunia. Oleh karena itu, pandangan hidup orang Yogyakarta menekankan pada keselarasan dan keseimbangan dengan alam semesta. Perwujudan dari pandangan hidup mereka ini, tercermin dalam bentuk-bentuk upacara tradisional.

Upacara pernikahan yang merupakan salah satu bentuk dari upacara tradisional merupakan upacara saat peralihan hidup dari masa remaja ke tahap hidup berumah tangga, merupakan saat-saat yang penting bagi kehidupan seseorang. Menurut orang Yogyakarta, peralihan hidup dari satu tingkat ke tingkat yang lain ini dianggap sebagai saat-saat yang gawat dan penuh bahaya. Ada sesuatu diluar kemampuan manusia yang dapat menyebabkan bencana pada saat peralihan itu. Untuk mencegah terjadinya bencana tersebut, maka perlu diadakan upacara tradisional, dimana upacara itu mengandung unsur-unsur yang bermaksud menolak bahaya gaib yang mengancam individu maupun lingkungannya.

Bagi masyarakat Yogyakarta, batik tradisional dianggap sebagai benda yang dapat mengungkapkan atau memberi pengetahuan atau pengertian tentang adanya daya-daya kekuatan yang menguasai alam semesta. Lebih daripada itu, apa yang tercermin baik pada motif, warna maupun nama-namanya nampak memberikan harapan-harapan ataupun jaminan bagi manusia berupa suatu kehidupan yang lebih baik selama di dunia. Oleh karena itu dalam rangka upacara pernikahan adat Yogyakarta, batik tradisional sebenarnya memiliki arti yang sangat penting. Hal ini karena batik-batik tersebut dianggap sebagai suatu perlengkapan khusus, yang dimaksudkan sebagai lambang yang dapat menghubungkan antara manusia dengan alam supranaturalnya, sehingga di saat upacara peralihan tersebut maupun pada hari-hari selanjutnya diharapkan dapat selamat terbebas dari kemalangan serta bahagia.

Namun demikian, arti dari pemakaian kain-kain batik tradisional sebagai alat perlengkapan upacara pernikahan adat Yogyakarta, bagaimanapun juga sangat tergantung dari persepsi masing-masing pemakainya mengenai pandangan mereka terhadap batik-batik itu sendiri.

Kenyataan bahwa berubahnya persepsi masyarakat Yogyakarta yang disebabkan oleh pola-pola berpikir yang lebih rasionil, di samping pembuatan batik secara besar-besaran dengan alat-alat teknologi modern, serta pengenaan atau penggunaan kain-kain batik yang bermotif tradisional tidak pada tempatnya, menyebabkan lunturnya makna magis yang terkandung di dalam batik-batik tradisional itu. Hal-hal demikian ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap pemakaian batik tradisional dalam upacara pernikahan adat Yogyakarta, sehingga pelaksanaannya dewasa ini lebih merupakan tradisi yang hanya semata-mata untuk dilaksanakan, tanpa penghayatan batiniah dan tidak lagi memiliki arti yang bersifat sakral.

Published in: on April 9, 2008 at 8:49 am  Comments (16)  

Tipe Wanita Jawa Ideal menurut KAMASUTRA JAWA

Masyarakat Jawa Kuno telah mengenal dua macam tipe wanita yang pantas dinikahi:

1. Tipe Padmanagara

Tipe ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. lambe iwir manggis karengat (bibir bagaikan buah manggis terbuka)
b. liringe sor madu juruh (kerling matanya mengalahkan manisnya juruh madu)
c. sor tang nyuh danta santene (payudaranya mengalahkan kelapa gading)
d. wangkong iwir limas angene (pantat bagai limas yang baik)
e. wentis iwir pudak angrawit (betis bagai bunga pudak yang mempesona)
f. dalamakan gamparan gading (telapak kaki seperti gamparan gading)
g. adege padmanagara (tubuhnya seperti padmanagara)
h. lumampah giwang lan gangsa (lenggangnya beralun senada gamelan, seperti seekor angsa)
i. panepi iwir patrem konus (pinggang bagai patrem terhunus)
j. pupu iwir pol ginempotan (paha bagai daun palma yang diserut halus).

2. Tipe Nariswari

Tipe ini memiliki ciri-ciri: murub rahasyanipun (menyala rahasianya).
Ciri-ciri lainnya berkaitan dengan tingkat spiritualitas dan inner beauty wanita. Ken Dedes merupakan contoh tipe ini.

Adapun tipe wanita jawa ideal adalah sebagai berikut:

1. Kusuma Wicitra
Ibaratnya bunga mekar yang sangat mempesona, yang siap untuk dipetik. Wanita yang ideal sebaiknya mempersiapkan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan agama, mengharumkan dirinya dengan perbuatan baik, menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

2. Padma Sari
Ibaratnya bunga teratai yang sedang mekar di kolam. Bunga teratai dalam budaya Jawa merupakan simbul kemesraan, sehingga yang dimaksudkan dengan wanita ideal dalam konsep ini adalah wanita cantik yang penuh kasih mesra hanya bila bersama dengan suaminya.

3. Sri Pagulingan
Ibaratnya cahaya yang sangat indah di peraduan/singgasana raja. Wanita yang ideal sebaiknya tidak hanya cantik jasmaninya, namun juga dapat mempersembahkan dan menunjukkan kecantikannya hanya kepada suaminya ketika berolah asmara di peraduan.

4. Sri Tumurun
Ibaratnya bidadari nirwana yang turun ke dunia. Wanita yang ideal sebaiknya cantik raga dan jiwanya. Ini dibuktikan dengan kesediannya untuk “turun”, berinteraksi dengan rakyat jelata, kaum yang terpinggirkan untuk menebarkan cahaya cinta dan berbagi kasih.

5. Sesotya Sinangling
Ibaratnya intan yang amat indah, berkilauan. Wanita yang ideal sebaiknya selalu dapat menjadi perhiasan hanya bagi suaminya, sehingga dapat memperindah dan mencerahkan hidup dan masa depan suaminya, juga keluarganya.

6. Traju Mas
Ibaratnya alat untuk menimbang emas. Ini merupakan simbol wanita setia yang selalu dapat memberikan saran, pertimbangan, nasihat, demi terciptanya keluarga yang sakinah.

7. Gedhong Kencana
Ibaratnya gedung atau rumah yang terbuat dari emas, dan berhiaskan emas. Ini merupakan simbul wanita yang berhati teduh dan berjiwa teguh sehingga dapat memberikan kehangatan dan kedamaian bagi suami dan keluarganya.

8. Sawur Sari
Ibaratnya bunga yang harum semerbak. Wanita yang ideal sebaiknya dikenal karena kebaikan hatinya, keluhuran budi pekertinya, kehalusan perasaannya, keluasan ilmunya, kemuliaan akhlaknya. Kecantikan fisik dan kekayaan harta yang dimiliki wanita hanya sebagai pelengkap, bukan syarat mutlak seorang wanita ideal.

9. Pandhan Kanginan
Ibaratnya pandhan wangi yang tertiup angin. Ini merupakan simbul wanita yang amat menggairahkan, menawan, dan memikat hati. Dapat dilukiskan sebagai: tinggi semampai, berparas cantik, berkulit kuning langsat, berbibir merah alami, berpayudara montok, murah senyum, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, dapat memberikan keturunan.

Dalam Serat Yadnyasusila dijelaskan tentang tiga hal yang harus dimiliki oleh seorang wanita agar dapat menjadi wanita idaman:

1.Merak ati atau mrak ati
Berarti: membina kemanisan dengan mempercantik dan merawat diri (ngadi warni), memperindah busana (ngadi busana), berwajah ceria (ngadi wadana), murah senyum (sumeh), santun dalam bertutur kata (ngadi wicara), dan sopan serta luwes dalam berperilaku (ngadi solah bawa).

2.Gemati
Berarti siap untuk merawat, mengasuh, mendidik putra-putrinya, mengatur rumah tangga, melayani suami dengan penuh keikhlasan.

3.Luluh
Berarti mampu selalu menyenangkan hati suaminya, selalu menyediakan waktu setiap hari untuk suami dan anak-anaknya, sabar dan gembira saat mengasuh anak-anaknya, dan selalu berusaha menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dalam keluarganya.

Untuk memilih (menikahi) wanita, dalam tradisi Jawa ada beberapa faktor yang biasanya menjadi bahan pertimbangan:

Bibit, calon pengantin putra maupun putri mempunyai latar belakang kehidupan keluarga yang baik.

Bebet, calon pengantin terutama pria harus mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bobot, calon pengantin putra maupun putri merupakan orang yang punya kualitas, bermental baik, dan berpendidikan cukup.

Sumber:

http://www.kabarindonesia.com

Negoro, Suryo S. 2001. Upacara Tradisional dan Ritual Jawa. Surakarta: CV Buana

Published in: on April 9, 2008 at 7:35 am  Comments (2)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.